Social Icons

Pages

Showing posts with label ibadah. Show all posts
Showing posts with label ibadah. Show all posts

Sunday, May 12, 2013


1.Bismillah, mau sharing. Langkah menggapai rumah tangga sukses, sejahtera di dunia dan akhirat, rumah tangga surga bersama Ar-Rahman

2.Jadi terinspirasi, habis baca buku “Kupinang Engkau dengan Ar Rahman” karya mas Rudiyanto SW Al-Kedokany

3.Recomended buat yang merencanakan pernikahan. Penulis mengupas detail bgtt alasan, prosesi, keutamaan knp memilih hafalan surat Ar Rahman sebagai mahar 

4.Rasulullah bersabda ”Wanita paling mulia diantara umatku adalah wanita yang memiliki kecantikan prima (shalihah) dan yang mudah maharnya”

5.Menurut  Imam Ibnu Qayyim, “Jika seorang wanita ridha dg (mahar) ilmu  agama atau masuknya suami ke dalam islam atau bacaan Al Qurannya, maka hal itu merupakan yg paling baik serta mahar yang paling bermanfaat”

6.Apa makna dari mahar Ar Rahman? Adlh bukti kebenaran cinta kasih Ar Rahman, Tuhan Yang Maha Pengasih yg diberikan kpd mempelai laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang sah

7.Mengapa Ar-Rahman? "Segala sesuatu memiliki pengantinnya, dan pengantin Al Quran adalah surat Ar Rahman" (Rasulullah)

8.Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman (merenungi dan metadabburinya), Allah akan menyayangi kelemahannya dan meridhoi nikmat yang dikaruniakan kepada-Nya."

9.“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan??? Maha agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia” (Ar-Rahman:77-78)

10.Memberikan mahar Ar Rahman adalah sama halnya dengan meneladani para kekasih Allah yg jg memberikan mahar Ar Rahman (dr segi makna ataupun bahasa)

11.Nabi Adam menikahi Hawa dengan mahar Ar-Rahman, pembacaan shalawat kepada manusia terbaik kekasih Allah, Rasulullah Muhammad SAW

12.Rasulullah memberikan mahar terbaik kepada wanita terbaik, Khadijah berupa Ar Rahman berupa cinta dan kasih sayang karena Allah semata

13.Ali bin Abi Thalib memberi mahar kpd Fathimah, putri Rasulullah dg Ar-Rahman berupa Syafaat Rasulullah kpd seluruh umatnya

14.Ummu Sulaim, sahabat wanita yg begitu mencintai Rasulullah memilih mahar Ar-Rahman, berupa keIslaman dari Abu Thalhah

15.Nabi pun pernah menikahkan sahabatnya dengan seorang wanita yang menawarkan diri kepadanya dengan hafalan Quran yang dia hafal

16. Dan saya pun jadi terinsipirasi ingin menghadiahkan hadiah mahar pernikahan terbaik berupa  Ar Rahman. :D

17. Apa sudah cukup keluarga yang berdasar pada Ar-Rahman? Wah belum cukuppp..  Ada 7 langkah menciptkan rumah tangga surga bersama Ar-Rahman

18. Pertama, Terangilah dan tenangkanlah rumah tanggamu dg berdzikir kpd Ar Rahman sebannyak-banyaknya dan istiqomah

19.Kedua. Hiasilah rumah tanggamu dg pengkhidmatan krn Ar Rahman

20. Ketiga.Jadikanlah dirimu sbg pekerja Ar Rahman, istrimu sebagai bidadarimu dan rumahmu sebagi surgamu

21. Keempat. Jauhkanlah rumah tanggamu dari makanan haram

22. Kelima.Indahkanlah rumah tanggamu dg bacaan Al Quran

23. Keenam. Muliakanlah rumah tanggamu dg shalat malam

24. Ketujuh. Rawatlah rumah tanggamu dg cinta, kasih sayang dan saling pengertian karena Ar Rahman

Sunday, January 27, 2013

Orang Yang Bangkrut


Halo sidang pembaca sekalian? Lama nggak posting nih ke blog ini, jadi kangen :) Harap maklum aja, akhir-akhir  ini lagi kejar target setoran jadi masih kacau management waktunya #soksibuk :P hehe 

Kali ini saya mau share aja, catatan yang saya dapatkan saat mengikuti kuliah subuh beberapa waktu yang lalu.

Materi yang sangat menarik dan menginspirasi,  yaitu tentang orang yang bangkrut, disampaikan oleh ust @condro_triono 

Siapa orang yang bangkrut itu? Kata ustadz membuka materi kuliah subuh kala itu. Ayo coba kita jawab dulu. Orang yang bangkrut itu mungkin menurut kita adalah orang yang merugi harta benda, misalnya dalam bisniss  yang paling gampang diliat. Keluar modal 10 juta, yang balik hanya 1 juta. Ini bangkrut namanya..

Dalam sebuah hadist, Rasulullah ternyata juga pernah bertanya kepada para sahabat dengan pertanyaan yang sama,

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”  Kata Rasul. Para Sahabat pun menjawab  ”Orang bangkrut menurut kami ialah orang yang sudah habis hartanya, sudah habis dinarnya, dan sudah habis kenikmatan-kenikmatannya”.

Lalu apa kata Rasul? Apa benar jawaban dari sahabat tadi? Ternyata jawaban menurut kita dan para sahabat ini salah. Bukan seperti itu ternyata.

Rasulullah pun berkata:

“Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang  mengahadap Allah SWT di hari kiamat kelak dengan membawa amal yang penuh tetapi amal kebaikannya terkikis oleh dosa-dosa yang dibuat ke orang lain”

Mengantongi amal yang penuh tetapi kok terkikis? Bagaimana bisa?

Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa di pengadilan akhirat nanti ada sekelompok orang yang sudah mengantongi amalan-amalan yang banyak seperti pahala-pahala salat, puasa, zakat, haji, dan amalan sunnah lainnnya yang telah ia kumpulkan selama hidup di dunia. Tinggal selangkah lagi masuk surga. Tiket surga sudah ditangan kalau bisa diibaratkan.

Tetapi dalam perjalanan ternyata ada batu sandungan  yang menghalangi untuk menuju kesana. Ia adalah dosa-dosa yang telah ia lakukan kepada orang lain tetapi belum sempat untuk meminta maaf kepadanya dan orang tersebut tidak ridho atasnya. Maka berhati-hatilah, bisa jadi orang kita dzalimi tersebut akan menuntut kita atas keburukan yang kita lakukan sewaktu hidup di dunia.

Kesalahan yang dilakukan walaupun kecil, tetap saja dosa dan akan dimintain pertanggungjawaban di pengadilan Allah Swt. Di pengadilan dunia mungkin bisa lolos, tetapi tidak akan ada yang bisa kececer walau sekecil biji zharah pun. Semua  pasti akan diadili dengan seadil-adilnya di pengadilan akhirat Allah Swt nanti.

Dalam hadist yang sama Rasulullah menyebutkan ada 5 dosa yang mengakibatkan amalan atau pahala yang kita kumpulkan jadi terkikis, yaitu tidak bisa menjaga hubungan baik dengan sesama, suka mencaci, menuduh/ fitnah, memakan harta/ korupsi, mengalirkan darah, dan memukul atau aniaya ke orang lain.

Contoh kecil.  Misal kita suka mencaci, atau menghina orang dan orang itu tidak ridho dan kita belum meminta maaf atasnya. Lalu seperti apa peradilannya diakhirat? Bagaimana cara menebusnya?

Dalam hadist dengan riwayat yang sama diberikan jawaban, maka dari amalan kebaikan yang telah kita kumpulkan, misalnya pahala sholat akan diberikan ke orang yang kita dzalimi. Itu baru dosa yang pertama lalu bagaimana jika kita juga mengerjakan dosa yang kedua, dan dosa-dosa yang selanjutnya, seperti sering menyebarkan berita bohong, suka menggosip, korupsi, memakan uang rakyat, menipu, dan sebagainya.

Maka akan diambillah amalan kebaikan kita yang lain, pahala puasa kita, pahala qiyamulail kita akan diambil, pahala zakat kita, sedekah kita akan diberikan kepada orang-orang yang yang telah kita dzalimi. 

Lalu bagaimana jika saking banyaknya orang yang telah terdzalimi dan amalan pahala kita telah habis. Dalam hadist ternyata juga sudah ada jawaban dan jawabannya sangat mengerikan.

.....Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (H.R Muslim )

Naudzubillahimindzalik.., 

Ternyata akan sia-sia saja jika hanya bagus dalam beribadah kepada Allah (hablumminallah) kalau hubungan dengan sesama tidak baik.Sungguh penyesalan dan keputus-asaan yang dideritanya tidak terkira akibat dari dosa-dosa kesalahan kepada orang lain.

Apa artinya sholatnya kenceng, umrahnya berkali-kali,  puasanya sering, tetapi hablumminnnasnya rusak. Percuma mengumpulkan amalan ibadah ritual sebanyak-banyaknya. Akan habis dan bangkrut bila tidak bisa menjaga hubungan baiknya dengan sesama.

Semoga kita dijauhkan dari dosa-dosa besar dan juga dosa-dosa kecil yang bisa mengikis amalan-amalan yang telah susah payah kita kumpulkan selama hidup di dunia ini.

Semoga kita juga tidak hanya bersemangat dan bagus dalam ibadah hablumminallah tetapi juga bagus dalam menjaga hubungan baik dengan sesama atau habluminannas

Semoga menjadi perenungan terutama buat penulis khususnya.
Sekian

Thursday, January 10, 2013

Segala sesuatu sesuai dg yang diniatkan. Aktivitas apapun akan bernilai pahala jika diniatkan sebagai #ibadah


Begitu juga sebaliknya, yang sejatinya aktivitas ibadah jika diniatkan selain untuk-Nya, malah tidak akan bernilai #ibadah

Bekerja bisa bernilai ibadah jika diniatkan dan dimaknai #ibadah  Misalnya untuk menafkai keluarga, membahagiakan orangtua, dsb

Ahha, kalau bekerja adalah ibadah, berarti otomatis apapun pekerjaan kita pun juga akan bernilai #ibadah Asyiikk.. :D

Makanya aneh kalau kerja nggak ada semangat, dan malas2an, wong kerja jika diniatkan #ibadah itu dapat bonus pahala pula dari-Nya

Apa belajar, baca buku juga ibadah? Ya jelas ibadah. Menuntut ilmu dlm kitab suci jelas2 wajib hukumnya. #ibadah juga

Jalan2 apakah juga #ibadah  Ahh jelas, akan bernilai pahala jika jalan2nya ke tempat yg bukan maksiat dan apalagi kalau sekaligus mentafakuri kebesaran-Nya

OL di fb, twitter pun jg bernilai ibadah. Ehh.. masa?? Iya kalau itu bermanfaat utk sesama  mengingatkan kepada kebaikan. #ibadah juga

Apa tidur itu ibadah?? Tidurnya orang berpuasa jelas ibadah. Mengistiratkan tubuh supaya bisa lebih prima.#ibadah juga

Seperti dua sisi koin yang saling melengkapi. Didalam ikhtiar terdapat ibadah dan di dalam #ibadah pun ada ikhtiar

Seandainya keduanya beriringan dengan sempurna, maka aktivitas kita dalam sehari semalam,  24 jam adalah ikhtiar yg juga  #ibadah dan bernilai pahala. Subhanallah...

Friday, December 28, 2012

Ayo Tepat Waktu

Enak ya rasanya kalau setiap yang kita butuhkan itu tepat waktu datangnya. Misal, pas lagi  kena kanker alias kantong kering dan lagi butuh uang, ehh tiba-tiba aja rezeki dateng. Pas mau nyari kerja sampingan ehh ada yang nawarin. Pas lagi laper, ehh ada yang ngasih makanan. Dan intinya, kita manusia ingin semua apa yang kita butuhkan itu tepat waktu dan cepat datangnya. Tull ??!

Ahh tapi itu kejadiaanya kan sekali-kali aja. Malah yang sering itu, seperti kata pepatah “jauh panggang daripada api.” Nahhh???

“Mengapa ya jawaban doa kita seringkali kurang pas???”

“Mengapa rezeki yang dateng nggak sesuai dengan harapan???”

“Mengapa jodoh yang diharapkan tidak ketemu-ketemu juga???”

“Mengapa dapat pekerjaan yang nggak sesuai dengan  passion dan minat kita???”

“Mengapa keinginan kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan???”

Sah-sah saja memang sampai keluar pertanyaan seperti itu. Cuma sebelum terlontar  pertanyaan-pertanyaan di atas kiranya perlu juga kita pikirkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini,

Apakah selama ini kita sudah mengerjakan sholat dengan benar dan tepat waktu??!

Apakah selama ini kita sudah melaksanakan perintah-Nya dengan penuh antusias dan semangat??!

Apakah selama ini kita sudah mengamalkan shalat-shalat sunnah yang di anjurkan??!

Apakah selama ini kita sudah merelakan sedikit saja waktu tidur malam kita untuk-Nya??!

Apakah selama ini kita sudah bersedekah dan berbagi kesenangan dengan orang  yang kekurangan??!

Apakah selama ini kita sudah konsisten meninggalkan semua larangan dan menjauhkan diri dari hal yang subhaat??!

Kalau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini lebih banyak belum-nya daripada iya-nya. Cuma sekali-kali dan lebih banyak jarangnya, dan baru dikerjakan kalau pas kita lagi mood dan pas lagi tidak sibuk aja. Ya pantaslah kalau doa-doa dan harapan kita juga seperti itu??!

Sebelum berharap sejuta keinginan dan doa kita terwujud menjadi kenyataan, mendingan kita bereskan dulu tugas-tugas kita. Kalau kita sudah benar melaksanakan kewajiban dan mengerjakan semua perintah-Nya, bukankah balasan itu akan datang sendiri tanpa kita perlu tanya lagi. Bukankan Allah swt juga telah menjanjikan dalam setiap perintah-Nya itu kita akan mendapatkan ganjaran. Bahkan seringkali balasannya berlipat-lipat. Dari sholat berjamaah saja kita mendapatkan ganjaran 27 derajat lebih tinggi dari sholat sendiri. Belum kalau sedekah dapat balasan 10 kali lipat. Belum kalau kita puasa, belum kalau kita dhuha, tahajud, belum kalau doanya di waktu yang utama, ramadhan dan sebagainya.

Bukankah melalui perintah-Nya ini Allah swt hendak memotivasi kita, bahwa untuk meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat utamanya, tidak akan diperoleh tanpa mengikutsertakan kehadiran—Nya dalam setiap langkah dan aktivitas kita.

Mari bersemangat mengerjakan tugas-tugas-Nya tepat waktu supaya balasan dari-Nya juga tepat waktu ! :D

Semoga menjadi pengingat dan perenungan  terutama buat penulis.

Salam.






Thursday, December 20, 2012


Suratul fatihah bagi kita umat muslim adalah ibarat makanan sehari-hari yang tidak akan pernah lepas. Bagaimana tidak, minimal 17 kali setiap hari kita melafadzkannya. Bacaaannya pun rasanya begitu lekat dengan lidah kita. Dengan otomatis lafadnya keluar begitu saja biar kita sedang ngigau sekalipun, Karena saking seringnya dibacakan setiap hari dan berulang-ulang. Misalkan kalau dihitung-hitung mulai sejak kecil kita sholat sampai sekarang, misalkan mulai sholat pada umur 10 tahun saja dan usia kita sekarang anggap 25 tahun. Di buat gampang aja setiap hari sholat 5 waktu. Itu saja, minimal kita sudah membaca surat alfatihah sebanyak 15 x 12  x 30  x 17 kali = 91800 kali.

Begitu seringnya lidah kita mengucapkan sebuah surat yang berisi 7 ayat diulang-ulang ini. Mungkin karena saking seringnya dan sudah hafal diluar kepala, kebanyakan dari kita malah membacanya sekali nafas tanpa spasi dan seakan-akan ingin cepat-cepat menyudahi bacaan surat Al-Fatihah tersebut. Padahal kalau dicermati, dalam setiap ayat demi ayat dalam surat Al-fatihah ini Allah Awt sedang berdialog dengan kita. 

Sadarkah bacaan-bacaan yang kita ucapkan adalah merupakan sebuah doa sekaligus  pengharapan kepada Rabb Yang Maha menguasai Alam Semesta ini??!

Amal pamungkas yang selalu kita harapkan menjadi penolong kita di yaumul akhir nanti??!
Amalan yang jika itu baik, maka baik pula seluruh amal yang lainnya??!

Apakah kita sudah menghayati setiap bacaan dalam setiap sholat kita selama ini??!


Dalam sebuah Hadist Qudsi, Allah SWT berfirman:

“Aku membagi Al-Fatihah dalam shalat menjadi 2 bagian, untuk Aku dan untuk hamba-Ku.”

Artinya 3 ayat pertama sebelum Iyyaka Na’budu Wa iyyaka Nasta’in adalah hak Allah, dan 
tiga ayat sesudahnya adalah urusan hamba-Nya.

Ketika kita mengucapkan “Alhamdulillahirabbil’alamin”." Allah menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku”

Ketika kita mengucapkan “Ar-Rahmannir-Rahim”. Allah menjawab: “Hambaku telah mengagungkan-Ku”

Ketika kita mengucapkan “Maliki yaumiddin”. Allah menjawab: “Hamba-Ku memuja-Ku.”

Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’budu Wa Iyyaka Nasta’in”. Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku.”

Ketika kita mengucapkan “Ihdinash Shiratal Mustaqim, Shiratalladzina An ‘Amta ‘Alaihim Ghairil Maghdubi ‘Alaihim Waladdzalliin.” Allah menjawab: ”Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku dan akan Aku penuhi yang ia minta.” (H.R. Muslim dan Al-Tirmidzi)


Berhentilah sejenak setelah membaca setiap ayat. Hayatilah ayat demi ayat dan rasakan  betapa indahnya jawaban Allah SWT, karena Dia sedang berdialog dengan kita, hamba-Nya. Allah menjawab ucapan dan doa-doa kita.

Apa ada yang lebih indah dunia ini selain doa-doa yang kita panjatkan diberikan jawaban oleh yang Maha Mengabulkan Setiap Doa dan Permintaaan???

Selanjutnya jangan lupa tutup dengan mengucapkan “Aamiinnn” dengan ucapan yang lembut dan lirih. Sebab malaikat pun mengucapkan “Aamiinnn” yang sama dengan kita.

“Barang siapa yang ucapan “Aamiinnn-nya” bersamaan dengan  ucapan “Aamiinnn-nya” malaikat, maka Allah akan memberikan ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daudm dan An-Nas)

Sekian. Semoga bisa menjadi perenungan terutama buat penulis..
Salam


sumber: Pengajian Umum Masjid Baitul Hijrah, Tanjungpandan, Belitung
oleh Ustadz. Muhammad Tarmidzi,S.E


Tuesday, October 23, 2012


Apa kabar temen-temen semua. Amalan apa yang sudah temen-temen lakukan pada hari ini? Semoga apapun kesibukan kita jangan lupa untuk selalu ingat kepada-Nya. Karena baik itu belajar, menuntut ilmu,  bekerja, atau apa pun itu, ke siapa lagi kita mengharapkan ilmu, rezeki, atau kemudahan urusan selain berharap pada Dia? Rightt???

Pada hari ini baru ngeh, ternyata hari ini sudah memasuki hari ke 7 bulan Dzulhijah. Salah satu bulan yang mulia dimana berbagai amalan mulia terdapat di dalamnya. Amalan yang apabila dikerjakan mempunyai nilai plus atau nilai lebih di hadapan Allah SWT karena dilaksanakan pada waktu yang utama. Lantas apa saja amalan utama yang bisa kita amalkan di bulan Dzulhijah? Semoga tulisan sederhana berikut bisa memotivasi temen-temen untuk memperbanyak amalan di bulan yang mulia ini.

Yang pertama adalah puasa sunnah. Dalam hadist diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya. 

Jadi amalan yang pertama adalah puasa di 9 hari di awal bulan Dzulhijah. Eh, sekarang kan sudah masuk, telat dong??? Tenang aja. Besok masih ada kesempatan tanggal 8 Dzulhijah, kita disunahkan untuk puasa tarwiyah. Selain itu juga disunnahkan puasa lagi pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu puasa Arofah. Pada tanggal 9 Dzulhijah atau dikenal juga sebagi hari arofah ini, jamaah haji sedang melaksanakan rukun haji yang paling utama yaitu, wukuf di Padang Arofah. Nah, kita yang tidak melaksanakan haji sangat dianjurkan untuk berpuasa pada hari arofah ini. Adapun keutamaan atau fadhilah dari puasa Arofah, disandarkan pada hadist berikut ini:

“Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)

Para ulama ada menambahkan untuk keutamaan puasa Tarwiyah dan Arofah, didasarkan pada hadist lain, bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun.

Meskipun banyak yang mengatakan hadits ini dhoif atau tidak kuat riwayatnya. Namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dhoif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla’ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Kemudian masuk amalan selanjutnya, adalah memperbanyak bacaan takbir, tahmid, tasbih, tahlil, istighfar mohon ampun, dan memperbanyak do’a tentunya. Disunnahkan juga untuk mengeraskan suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya. Selain amalan tersebut amalan-amalan yang sudah biasa dilakukan seperti sholat sunnah, sedekah, tilawah quran dan amalan soleh lainnya juga  harus ditingkatkan.

Selanjutnya amalan yang paling utama dan menjadi rukun islam yang ke lima, untuk dikerjakan pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah menunaikan haji ke Baitullah. Meskipun sekarang mungkin belum diberikan rezeki untuk bisa berkunjung ke sana, kita sebagai  muslim harus punya niat yang kuat dalam hati nanti pasti bisa berkunjung ke sana, insyaallah. Tentunya tidak cukup kalau hanya dengan niat, harus diimplementasikan juga dengan perbuatan atau action. Seperti perbanyak amalan, bekerja lebih giat lagi, membuka tabungan haji, pelajari ilmunya, ikut manasik/pelatihan  haji, dsb. Intinya kita memantaskan diri dulu kepada-Nya. Semoga dengan begitu insyaallah nanti kita akan mendapat panggilan Allah untuk pergi ke sana. Amiiinnnn.....

Nahh yang terakhir, sesuai dengan namanya yaitu Hari Raya Qurban, maka disunnahkan pada tanggal 10 Dzulhijah dan hari tasyrik untuk menyembelih hewan kurban. Yaitu untuk mengenang peristiwa ketika Nabi Ibrahim as yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail.

“Sudahkan temen-temen menyiapkan kambingqurbaann???”
“Eh, gak harus kambing deng, bisa sapi, unta, atau domba bisa juga. Asal jangan korbankan perasaan aja.” Hehe...

Hikmah dari qurban ini tentunya supaya kita dekat dengan Yang Maha Memberi Hidup. Sebagai wujud rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan, baik itu nikmat umur, nikmat iman, nikmat sehat, nikmat rezeki, dan sebagainya tak terhitung bila kita menghitung nikmat Allah yang sekian banyak ini.

Selain itu, balasan bagi yang berkurban dengan ikhlas tentunya akan mendapat pahala. Rasulullah pernah menerangkan bahwa “Setiap satu helai rambut atau bulu dari hewan kurban mendapat 1 kebaikan dan bernilai 1 pahala.”

“Pernahkah temen-temen menghitung helai demi helai bulu kambing kurbaaann....???”
“Sampai lebaran monyet 100 kali juga gak bakal selesai-selesai !!!” hehe

“Makanya kalau kurban beli domba wol jangan domba yang gundul !!! Biar banyak bulunya !, Banyak Pahalanya !” Hehehe.... *becanda lagi

Pokoknya banyak deh manfaat atau hikmah dari berkurban ini, sebagai ibadah yang paling utama, membawa misi kepedulian pada sesama, menggembirakan kaum dhuafa,  sebagai syiar agama islam, dan mencari ridho Allah tentunya
Semoga saja kita diberikan kemudahan untuk bisa mengamalkan amalan-amalan tadi diatas.

Cukup sekian, semoga bermanfaat buat yang baca dan menjadi motivasi buat penulis sendiri.
Salam



Labels

 

My Friends

My Twitter