Social Icons

Pages

Showing posts with label petualangan. Show all posts
Showing posts with label petualangan. Show all posts

Saturday, January 19, 2013

Tanjung Pendam


Haloo sobat? Apa kabar hari inii? 
Semoga hidup kita dipenuhi dengan rasa  syukur dan semangat untuk selalu meningkatkan kualitas diri. Kali ini saya mau sharing lagi, petualangan saya di Negeri Laskar Pelangi, Belitung. Kali ini ceritanya kita jalan-jalan ke Tanjungpendam :)

Pantai Tanjungpendam ini letaknya berada di wilayah kota Tanjungpandan. Dari alun-alun kota, cukup 5 menit perjalanan. Dekat bangett dengan pusat kota. 

Karena lokasinya yang strategis, mudah di jangkau, dan panorama pantainya juga yang menakjubkan, pantai ini hampir setiap pagi dan sore ramai dengan pengunjung. Ada yang sekedar jalan-jalan sore dengan keluarga, wisata kuliner, berolahraga, joging, atau bersepeda.

Pantai Tanjungpendam ini bagi saya adalah tempat favorit untuk olahraga pagi. Udara nya yang bersih dan sejuk, karena banyak pohon yang rindang si sekitar pantai, sangat cocok untuk tempat merefresh diri, paru-paru kita pun seakan jadi bersih kembali. Selesai cape berolahraga, kita bisa santai di pondok yang sudah banyak berada di tepi pantai ini. Sembari menikmati semilir angin di pantai kita bisa berpuas diri menikmati indahnya panorama pantai yang indah ini.  Kalau sudah disini, pasti bakal betah berlama-lama. Duduk dibawah rindangnya pepohonan, sembari menikmati angin pantai yang menyapu kulit itu serasa dapat angin syurgaa...  Asoooiiii :D

( jogging track)

( panorama pantai )

Berbeda dengan pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang, di pantai ini tidak ada bebatuan granit dan airnya pun tidak sejernih yang di pantai Tg Tinggi. Jadi  tidak bisa kalau buat mandi atau berenang. Kabarnya dulu pantai ini salah satu tempat yang diekspolitasi timahnya, sehingga pantainya  berlumpur :(

Oya, kalau untuk fasilitas saya lihat juga sudah lumayan terkelola dengan baik. Dari Resto, tempat makan, jogging track, pondok, hotel, arena bermain, tempat parkir yang luas, tempat ibadah, arena panggung, tempat souvenir, sudah cukup lengkap. Untuk masuk kita juga dikenakan biaya admisitrasi Rp.2000,- aja.

( pondokan)
Di sore hari, kalau kita beruntung dan cuaca bersahabat, kita bisa menyaksikan indahnya sunset yang tenggelam di tengah laut di pantai. Indah sekali. 

 ( view sunset )

Cuma ada satu aja dari pantai ini yang rasanya masih kurang. Sebagai lokasi wisata paling dekat dengan kota, tempat ini rasanya kurng “wah” seperti tempat wisata di kota-kota lain, seperti wahana permainan atau sesuatu yang unik atau ciri khas yang bisa menarik khalayak ramai untuk ke sini.

Kemudian satu lagi, karena mungkin jumlah pengunjung yang semakin bertambah, jadinya pantai ini saya lihat sudah mulai banyak sampah, dibandingkan beberapa tahun sebelumnya sewaktu saya terakhir datang ke sini. Sampah plastik, bekas botol minuman, dan lain-lainnya jadi agak sedikit mengurangi keelokan dari pantai ini.

Semoga kita bisa ikut berkontribusi untuk menjaga keindahan alam yang telah Dia ciptakan ini untuk supaya tetap lestari.

Sekian dulu. Lanjut lagi episode berikutnya. Stok pantai-pantai dan tempat wisata di sini masih buanyaaak yang rencana akan saya kunjungi satu persatu. Hehe. Bersambung...


Salam


Friday, January 4, 2013

Bukit Berahu


Haloo, apa kabar sobat semua? Semoga kita menjadi insan yang dipenuhi rasa syukur atas nikmat yang diberikan-Nya Pada kesempatan ini saya mau sharing lagi tempat yang #highrecomended untuk di kunjungi di tempat perantauan saya “Belitung, Bumi Sang Pemimpi”. Kali ini ceritanya kita akan jalan-jalan menyambangi sebuah bukit yang berada di tepi pantai :D

Dari kemarin perasaan jalan-jalan terus??? Kapan kerjanyaa??! Hehe. Mengabdi dan bertugas di perantauan sembari  berwisata menikmati hidup apa juga salahnya?! Tull??? Travelling mencari inspirasi sembari mentafakkuri ayat-ayat kauniyahnya supaya selalu bersyukur atas karunia -Nya. Mumpung masih hidup, mumpung masih bisa jalan, sebelum dicabut nikmat oleh-Nya, kapan lagi bisa menikmati keindahan alam macam begini??!  :D


Ada waktunya serius bekerja, ada waktunya juga membebaskan diri dari rutinitas, jalan-jalan. Sudah saya jadwalkan memang setiap minimal 2 minggu sekali itu untuk refreshing, 
berpetualang biar tidak jenuh, terus fresh, dan selalu semangat beraktivitas. Nahh pass kebetulan liburan awal tahun kemarin, saya manfaatkan aja untuk jalan-jalan. Kali ini ke Bukit Berahu. Menikmati keindahan pantai pasir putih dan beningnya air laut belitung dari atas bukit :D

Lokasi bukit wisata Bukit Berahu ini tidak jauh dari pusat kota Tanjungpandan, kurang lebih 20 km. Cukup dengan berkendara 20 menit kita sudah sampai ke lokasi. Tidak perlu khawatir akan fasilitas transportasi atau akomodasi. Di pulau ini sudah ada beberapa agent wisata atau travel. Hampir semua jalan di pulau ini juga layaknya jalan tol. Mulus, lancar dan di jamin bebas hambatan :D

Bukit berahu ini termasuk objek wisata di Belitung yang sudah terkelola dengan baik. Di lokasi sudah ada penginapan, rumah makan, kolam renang, dan cottage yang ada di bawah bukit berhadapan dengan bibir pantai. Oya untuk biaya masuknya per orang dikenakan administrasi Rp.2000,- rupiah aja.

Dari lokasi tempat makan yang bersebelahan dengan kolam renang ini kita bisa menikmati indahnya panorama laut yang membentang di depan mata. Kalau kita beruntung kita juga bisa liat sunset yang turun di tengah laut tanpa terhalang apapun :) Sayang pas waktu saya datang kemarin cuaca cukup mendung, jadi batal menyaksikan sunset di sini.





Dari atas bukit ini kita bisa menuruni tangga menuju pantai. Cukup lumayanlah untuk jalan naik turun bukit. Karena waktu saya datang itu bertepatan dengan hari libur dan cuti bersana, jadi pas lagi rame-ramenya pengunjung yang datang dan berwisata ke tempat ini.



Di bibir pantai ada 5 cottage yang di sewakan. Persis menghadap ke laut dan dari jarak 5 meter di depan pintu ada pantai pasir putih. Fasilitasnya sekilas saya lihat juga cukup lengkap, ada kamar, ruang tamu, AC dan ada TV-nya juga. 



Banyak juga pondok-pondok kecil di beberapa tempat. Cocok lah untuk tempat bercengkarema sembari menunggu senja merasakan angin sepoi-sepoi di pantai ini :D

Kalau untuk pantainya hampir mirip dengan pantai di Tanjung Tinggi atau Tanjung Kelayang. Bedanya batu-batu granit di sini tidak sebanyak dan sebesar yang di Tanjung tinggi. Ombak nya yang tenang dan landai, sangat cocok bila mau puas – puas  berenang di pantai ini.



Sekian dulu.  Ayo bersama kita jaga keindahan alam yang telah Allah berikan supaya tetap lestarii :D

Semoga bisa terus menyambangi sederetan tempat-tempat terindah di pulau yang indah ini.
Bersambung... ( Next Trip -> Tanjungpendam :D)


Tuesday, December 25, 2012

Tanjung Kelayang

Apa kabar sobat  semua??? Semoga kesehatan dan kebaikan selalu menghampiri hidup kita. Pada kesempatan ini saya mau sharing lagi, tempat yang high recomended untuk di kunjungi di pulau dimana saya tinggal, “Belitung, The rainbow Troops Country”, begitulah julukannya. Salah satu tempat wisata terbaik di sini adalah pantai 'Tanjung Kelayang'.

Pantai Tanjung Kelayang ini masih satu deretan dengan pantai Tanjung Tinggi yang pernah saya ceritakan pada postingan sebelumnya. Kalau dari pusat kota Tanjungpandan, pantai ini kurang lebih 30 km. Lebih dekat daripada Tanjung Tinggi, dan cuma butuh waktu 45 menit untuk menyambangi pantai ini. Seperti pantai-pantai di Belitung pada umumnya,  pantai ini memiliki pasir putih, dengan air lautnya yang biru dan batu-batu granit  yang bertebaran di mana-mana, bahkan banyak juga yang berada tengah laut.

Tidak jauh kurang lebih 100 m dari bibir pantai, kita bisa melihat tumpukan batu yang  seolah membentuk formasi Kepala Burung Garuda. Baguss dan unikk bangett. Mungkin karena berbentuk seperti kepala burung ini dinamakanlah Pulau Burung. Nih hasil jepretan saya,



( pulau burung )


Di pantai Tanjung Kelayang ini selain kita bisa berenang di tepian pantai  bisa juga kalau mau berkunjung ke pulau-pulau kecil yang berada di sekitar pantai, di sepanjang pantai sudah banyak kapal-kapal yang terparkir khusus disewakan untuk pengunjung.




Banyak sekali pulau-pulau yang bisa  kita kunjungi di sini, semua masih alami dan masih perawan kalau saya bilang, ada pulau burung, pulau lengkuas, pulau batu berlayar, pulau babi dan masih banyak lagii.

Karena letaknya yang berada di sisi barat pulau belitung dan muka pantai pas menghadap ke barat.  Dari pantai ini katanya indah banget untuk lihat sunset dan cahaya rembulan di atas air laut. Rekomended bangett buat honeymoon nanti ni.. Hehehe

Bagi yang bisa berenang, di pulau-pualu sekitar pantai ini kita bisa snorkling menyusuri indahnya bawah laut Belitung. Spot yang jadi favorit itu katanya ada di pulau babi dan pulau lengkuas. Airnya yang bener-bener bening, dengan berbagai ikan-ikan hias dan terumbu karang banyak di sini.





( pulau lengkuas )


Oya, di pulau Lengkuas ini selain airnya yang bening dan panorama pantainya yang indah, yang bukin unik lagi adalah terdapatnya bangunan  mercusuar yang masih berdiri tegak dari Jaman Belanda. Tingginya mencapai 80 meter. Kita bisa naek ke dalam mercusuar yang mempunyai 19 lantai ini. Dari lantai yang ke 18 ini, di sediakan tempat dimana kita bisa menikmati indahnya pulau belitung beserta pulau-pulau kecil yang mengelilinginya. Buagusssssss Bangettttt.......... Sejauh mata memandang, pantai dan laut semuaa. Bener-bener biru sebiru-birunyaa.... Nggak bisa berkata-kata lagi buat jelasin keindahan pantai di sini. Kalau mau kasih jempol, saya kasi 10 jempol buat Pulau Lengkuas ini. Hehe. 

Nihh, panorama yang bisa dilihat dari atas mercusuar....








Sekian dulu, semoga masih bisa terus berpetualang dan menikmati jengkal demi jengkal keindahan alam yang telah Allah sajikan gratis di sini. Bersambung...

Salam

Monday, December 10, 2012

Rihlah


Alhamdulillaahh Puji syukur  atas karunia-Nya masih bisa menikmati pagi yang indah dengan udaranya yang bersih, di bawah naungan langit cerah berhiaskan cahaya sabit nan indah. Hemmmm.., sungguh terasa nikmat. Setelah menunaikan tahajud, sahur saum sunnah, dilanjutkan qabliah dan jamaah subuh di masjid itu suatu kenikmatan yang tak terkatakan dan tak bisa dituliskan. Semoga  membawa berkah... :-)


Tetapkanlah hati-hati ini untuk selalu istiqomah di atas jalan Mu Ya Rabbii...

Tidak ada kata yang lebih indah di pagi seperti ini selain ucapan syukur atas segala nikmat-Nya yang tak terkalkulasikan lagi jumlahnya. Atas semua anugerah dan karunia-Nya, atas orang-orang terdekat yang selalu mendoakan dan memberikan  perhatiannya, keluarga tercinta, dan sahabat-sahabat terbaik. Meskipun berada di tanah rantau, berada jauh dari kampung halaman, dan jauh dari keluarga,  bukanlah menjadi suatu alasan untuk bersedih hati dan tidak berbahagia. Haruslah tetap bersyukur karena di sini pun dipertemukan dengan keluarga baru, yang bisa menjadi obat penawar kerinduan dengan keluarga tercinta di rumah.

Seperti kemarin, baru saja saya dan kawan-kawan halaqah (anggap sebagai keluarga baru) melaksanakan rihlah di pantai Penyabungan, Membalong. Pantai yang masih sangat-sangat alami, jauh dari perkotaan, dengan air yang masih benar-benar biru, angin yang sepoi-sepoi dengan panorama alamnya yang sangat indah.





Setelah seminggu full tidak pernah libur dari pekerjaan kantor, aktivitas keseharian yang menguras fisik, pikiran dan tenaga, dan membuat jenuh, sudah saatnya lah untuk sejenak mem’bebas’kan diri dari rutinitas keseharian guna merefresh jiwa dan pikiran agar kembali semangat beraktivitas.

Cerita pun dimulai. Ahad pagi, sesuai jarkom yang telah di sampaikan sebelumnya oleh murabbi, jam 9 untuk berkumpul di tempat di mana kami biasa melaksanakan halaqah. Lupa tepatnya berangkat jam berapa ( karena tidak liat jam dan seperti biasa agaknya jam yang berlaku di Indonesia adalah jam karet, jadi sedikit molor tidak sesuai dengan yang telah direncanakan). Singkat cerita dengan mengendarai 3 avanza sampailah kami di tempat tujuan, pantai Penyabungan jam 11.30 WIB. Acara kemudian dibuka oleh murabbi kami, dengan menyampaikan beberapa amanat dan agenda yang akan kami laksanakan dalam acara rihlah pada hari itu.



Setelah selesai pembukaan, kami melaksanakan ibadah dzuhur berjamaah di atas terpal biru dengan terpaan angin pantai yang sepoi-sepoi di bawah pohon yang cukup rindang,  cukup nyaman dan terasa menyejukkan. Hhmmmm, subhanalllah indah rasanyaa.

Acara pun dilanjutkan dengan memasak bersama, bakar-bakar ikan dan makan bersama. Dengan menu seadanya pun kami santap dan lahap memakan semua makanan yang tersaji. Memang terasa lain kalau makan sendiri dan makan bersama-sama. Meskipun dengan menu seadanya pun akan terasa jauh lebih nikmat.




Setelah dirasa cukup, kami pun memutuskan untuk menyusuri hamparan pantai pasir putih, batu-batu granit dengan air lautnya yang benar-benar bening. Bercerita, bercanda bersama, sembari menikmati panorama pantai yang begitu indahnya di depan mata. Tidak lupa dan tidak kami sia-siakan  untuk mengabadikan moment ini dengan kamera yang telah disiapkan sebelumnya.


Berpose, berfoto dan bernarsis ria walau dengan tampang pas-pasan bergaya lagaknya seorang  model majalah coverboy. Ehh kayaknya lebis pas anggap saja boyband ibukota yang niat berlibur dan nyasar di pedalaman Pulau Belitung ini. :P :P




Setelah puas berfoto dan menyusur pantai, tepatnya sebelum asyar kami putuskan untuk berkemas-kemas. Acara pun di tutup dengan saling bertukar hadiah dan setelah itu kami bersepakat menunaikan sholat asyar di masjid saja dan kemudian setelah itu langsung pulang. Singkat cerita, udahan.

Sudah menjadi fitrah manusia, yang namanya kejenuhan dan bosan melaksanakan rutinitas keseharian. Untuk itulah diperlukan penyegaran jasmani, rekreasi batin dan jiwa  seperti melaksanakan rihlah /rekreasi seperti ini agar bisa merefresh raga dan jiwa untuk menjadi  muslim yang lebih kuat, sehingga dapat melanjutkan pekerjaan dengan kondisi yang lebih baik, dan lebih efektif kedepannya.

Dengan kegiatan seperti ini di harapkan akan meningkatkan hubungan tali silaturahmi. Bantu-membantu untuk mempersiapkan keperluan rihlah, memasak bersama, makan bersama, saling tukar menukar hadiah dan sebagainya, tentu akan lebih meningkatkan rasa kerja sama dan ukhuwah diantara sesama ikhwah.

Dengan lebih dekat dengan alam seperti ini, bisa sekalian bertafakur mengagumi kebesaran dan keagungan ciptaan-Nya. Semoga dengan begitu, kadar ketaqwaan  dan rasa syukur semakin bertambah dan bisa menjadi suntikan semangat untuk beraktivitas lebih baik lagi di hari-hari mendatang.

Sekian.




Wednesday, December 5, 2012

Tanjung Tinggi


Apa kabar sahabat semuaa??! Semoga kita menjadi insan yang selalu bersyukur biar bagaimana pun keadaaan kita. Bahagia itu bukan atas apa yang kita miliki, tetapi apa yang telah kita syukuri. Righhhtt???

Pada kesempatan ini, saya ingin  share aja tempat-tempat  yang high recomended untuk  dikunjungi dibumi dimana saya tinggal, “Bumi Sang Pemimpi”. Terutama bagi para petualang, penikmat keindahan alam laut, atau   bagi siapa saja yang sekedar ingin rekreasi, berwisata bersama sahabat atau keluarga, tempat ini bisa dijadikan destinasi paling top. Dijamin, tempat wisata di sini tidak ada duanya di jagad semesta. hehe

Pertama, Pantai Tanjung Tinggi. Pantai yang menjadi icon wisata pulau yang namanya terus melejit dan naik daun  berkat sebuah film yang mengangkat cerita anak-anak di pulau ini. Sampai-sampai judul filmnya menjadi jargon tempat ini, Belitung “Negeri Laskar Pelangi”

Pantai ini secara administrasi berada di wilayah Sijuk. Terletak kurang lebih 24 km dari Kota Tanjungpandan, Ibukota Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kalau dari bandara, cukup ditempuh dalam waktu 45 menit bisa dengan angkutan atau travel yang sudah banyak tersedia. Tidak berlama-lama kita akan disuguhi panorama pantai yang indah dengan hamparan pasir putih, bersih dan masih alami. 


( landskape tanjung tinggi)

Pantai pasir putih, ombak yang tenang, air laut berwarna biru sebiru-birunya dengan  bebatuan granit raksasa yang bertebaran dimana-mana, menjadikan daya tarik dan keunikan tersendiri  yang membedakan pantai ini dengan pantai-pantai lainnya di dunia.

Saat hari libur, pantai ini sangat ramai oleh para wisatawan. Baik wisatawan lokal, nasional dan kadang juga mancanegara yang ingin menghabiskan waktunya di tempat yang indah ini. Kita bisa berenang, snorkling, diving, atau sekedar menikmati panorama pantai, atau juga jalan-jalan sore menikmati sunset yang sangat cantik jika dilihat dari sini. 


Nihh, beberapa gambar yang telah berhasil saya abadikan....

(indahnya senja hari di tg tinggi)











Sementara ini cukup 1 tempat ini dulu. Masih buanyaakkk tempat-tempat yang lain yang tidak kalah indahnya. Tanjung Kelayang, Tanjung Pendam, Bukit Berahu, Batu Lubang, Teluk Gembira, Pulau Lengkuas, Pantai Penyabung, Pulau Babi, Pulau Burung, dan masih banyaak lagi. Semoga saja terwujud untuk menelusuri sederet keindahan di pulau yang cantik ini. 

Tunggu dan nantikan saja postingan selanjutnyaa... Hehe
Bersambung...

Wednesday, October 31, 2012

Apa kabar sobat semua??! Semoga tetap semangat dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Ingat, apapun aktivitas yang kita lakukan, jangan lupa untuk diniatkan untuk mencari ridho Allah SWT. Baik itu belajar, bekerja atau aktivitas apa pun apabila kita berniat dalam hati untuk mengharap ridho-Nya, insyaallah amalan tersebut juga akan bernilai ibadah dan mendapat balasan pahala. Sepakatt??! 

Pada kesempatan ini saya mau melanjutkan lagi cerita petualangan saya menjemput impian di Mahameru. Sudah menantikan kelanjutan cerita ini ya??? Hehehe,  Sabar dulu...

Bagi temen-temen yang belum menyimak kisah sebelumnya, alangkah baiknya untuk baca dulu biar nyambung. Nihh ---> Mahakarya dari Yang Maha Cinta, "Mahameru" (part 1) dan ini Mahakarya dari Yang Maha Cinta, "Mahameru" (part 2)

Impian. I – m – p – i – a – n . Dari kemarin saya selalu membicarakan suatu topik, yaitu impian. Perjuangan menjemput impian, perjalanan mewujudkan impian menjadi kenyataan, dsb. Sebenarnya apa itu impian??? Mungkin ada yang nanya.

Boleh saya jawab? Kalau saya tidak punya impian, saya tidak akan susah payah pergi jauh-jauh sampai ke Malang, tidak akan mengorbankan waktu berhari-hari masuk hutan,  tidak akan merelakan kaki untuk berjalan jauh berjam-jam, dan menguras peluh keringat, belum rasa cape, membawa beban yang tidak ringan naek ke atas gunung. Belum ditambah lagi melawan rasa kantuk, hawa super dingin yang menusuk tulang, bahkan sampai menantang maut dan tetap saja berangkat ke Puncak tertinggi Mahameru dengan keyakinan, tekad dan semangat. Tentunya, tidak mungkin saya korbankan itu semua kalau tidak ada tujuan yang ingin dicapai.

Buat apa sih susah-susah naek gunung begitu? Nggak ada gunanya ?!  Apa manfaatnya??? Mendingan tidur, nyenyak, nonton tv  di rumah.!  *pertanyaan orang awam yang tidak pernah tau akan nilai perjuangan, kesabaran, dan suatu pengorbanan menghadapi tantangan!

Perhatikan perkataan Bapak Palang Merah Dunia, Sir Henry Dunant berikut ini:

" Sebuah negara tidak akan pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering berpetualang di hutan, gunung, dan lautan. ”

Bukan orang sembarangan yang mampu keluar dari zona nyaman. Bukan orang biasa yang berani meninggalkan rutinitas keseharian, keluar dari kesenangan yang  melenakan. Kasur nan empuk di rumah, meninggalkan gadget, televisi, sosial media, dan hiburan lainnya untuk rela bersusah-susah, berjuang keras dengan penuh kesabaran, dan pengorbanan meninggalkan  itu semua. Tentu  tujuannya adalah satu untuk meraih kesuksesan. Suatu bentuk pencarian jati diri, pencarian hakikat dari arti kehidupan. Mencari jawaban atas semua pertanyaan kenapa kita hidup dan alasan kita berada di dunia. Dan akhirnya nanti kita akan terpuaskan dengan jawaban dari semua pertanyaan. Kesadaran yang akan menancap dalam, di hati sanubari akan kebesaran dan keagungan Allah SWT. Bahwa sedemikian kecilnya  diri ini. Kita, manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Bahkan tidak lebih kecil dari sebutir debu di dalam luasnya alam semesta ini.

Kembali lagi deh, malah kemana-mana jadinya. hehehe

Lalu apa yang menjadi impian saya di Mahameru??? Apakah cukup menginjakkan kaki di sana, titik tertinggi pulau Jawa? Ahh, tidak hanya itu. Terus apa dong? Nanti sambil baca ceritanya akan ketemu jawabannya. Hehe


Terakhir, kami sampai di Pos Kalimati. Sebuah lembah berpasir dan berbatu dimana di depan pos kalimati ini terdapat padang yang cukup luas yang ditumbuhi banyak sekali tanaman edelweiss. Dari sini, kita bisa menyaksikan Puncak Mahameru, yang terlihat seperti gundukan batu pasir maha raksasa yang begitu besar dan berwibawa di atas sana.

( view Mahameru dari depan pos kalimati)

Hari menjelang senja. Kami pun beristirahat untuk mengembalikan stamina yang terkuras setelah berjam-jam perjalanan yang cukup melelahkan. Belum lagi persiapan untuk "Summit of Mahameru" yang kami rencanakan nanti tengah malam. Setelah berdiskusi dengan rombongan dan sesama pendaki lainnya diputuskan, kami akan berangkat “Summit of Mahameru”, jam sebelas malam. #WuihhNiatBanget

Hal itu kami lakukan dengan beberapa pertimbangan. Mengingat warning dari pendaki senior yang sudah berpengalaman, dimana harus sampai puncak sebelum jam 8 pagi, untuk menghindari gas beracun yang disemburkan oleh kawah Mahameru. Perjalanan biasa normal memakan waktu kurang lebih 6 jam. Sebelum siang, juga harus sudah turun lagi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.  #KeselamatanItuYangUtama

Waktu yang ada, benar-benar saya gunakan  untuk beristirahat di dalam tenda. Baju hangat double, sarung tangan, kaos kaki, kupluk, sleeping bag, semua saya kenakan supaya benar-benar bisa nyaman untuk istirahat.

“Nanti jam 10 malam harus sudah bangun untuk mempersiapkan semua perlengkapan”, pikir saya

Untuk pendakian kali ini cukup bawa tas kecil atau  backpack aja. Sangat tidak memungkinkan dan  bahaya malah kalau mau bawa carrier. Jangankan bawa carrier, bawa diri aja susah. hehe

"Dua botol aq*a kecil sudah,  roti buat sarapan sudah, kamera siap, baterai cadangan full, bendera merah putih oke, senter oke, slayer siap, kacamata, hansaplast, topi  almamater, dan tisu basah....!”

Ahh, siap semua..! ” cukup dan saya langsung masukkan semua amunisi ini ke tas.

Kaos, jaket almamater, baju hangat 2 lapis, kaos kaki  2 lapis, celana training 2 lapis, kaos tangan, masker, headlamp dan kupluk...!”    cukup dan langsung saya kenakan semua. #lengkapbangettt hehe #iyadong

Setelah selesai mengecek perlengkapan yang akan kami bawa, dan membuat roti bakar dan meneguk secangkir kopi jahe hangat kami pun keluar tenda.

“Brrrrrrrrrrrrrrrr...., dinginnnyaa ituuu.........."  #pasangkupluk

“Wusssshhhhhhhhhhhhhhh, Wusssshhhhhhhhh” #anginkenceng

Di luar tenda, nampak dalam remang-remang cahaya api unggun yang tidak begitu terang di dalam kegelapan lembah kalimati dengan angin yang cukup kencang, sudah banyak pendaki lain yang sudah berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Ada yang briefing dan mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Ada yang mengelilingi api unggun, sambil nyanyi-nyanyi berangkulan menghimpun kehangatan, lumayan  sedikit mengurangi efek  dari angin super dingin yang menembus kulit meskipun sudah mengenakan jaket berlapis-lapis.

“Ohhh,  indahnya persahabatan di lembah Mahameru.”

Segera saya pun bergegas, bergabung dengan rombongan. Lumayan banyak para pendaki yang melakukan pendakian mahameru malam ini. Saya perkirakan 50-an lebih. #lumayanbanyaktemen

Jam sebelas kurang 15 menit. Kami semua berjalan bercahayakan sinar senter menuju ke padang yang lebih luas. Di sinilah semua pendaki berkumpul, membentuk kelompok-kelompok.

Setelah briefing oleh salah seorang pendaki senior, bagaimana track yang akan di hadapi, menyampaikan beberapa pesan, jangan terpisah dari rombongan, tetap berpositive thinking, dan jangan sampai tertidur, dsb. Kami pun akhirnya menundukkan kepala, berdoa  sebelum perjalanan pendakian malam ini. Memohon kepada Allah SWT, Sang Pencipta dari Keagungan Alam raya ini supaya diberikan keselamatan dan kemudahan agar sampai dan kembali dari puncak dengan selamat.

“Bismillahitawakkaltu‘alallaaah........”

“Berangkaaaaaaaaaaaaat !!!”, jam sebelas lebih lima menit kala itu.

Melewati jalan berpasir dalam malam gelap yang pekat dengan pandangan mata yang terbatas. Sejauh mata memandang, yang nampak  hanyalah ribuan  partikel debu berjatuhan terkena cahaya sinar senter. Sempat menuruni lembah, kemudian track mendaki yang berdebu dan berpasir dalam gelapnya hutan lembah mahameru. Akhirnya, setelah satu jam pendakian kami sampai di Pos “Arcopodo”. Arco artinya arca, sedangkan podo itu artinya sama atau kembar. Berarti arca kembar. Katanya ada arca kembar itu di sini. Tapi entahlah, saya nggak menemukan ada arca di pos ini. Yang ada malah tugu kecil seperti batu nisan, “in memoriam”, untuk mengenang para pendaki yang telah meninggal di sini. Lumayan menyeramkan.

Setelah sebentar beristirahat, ambil nafas, perjalanan pun dilanjutkan. Semakin ke atas udara rasanya semakin tipis, jadi agak susah untuk bernafas. Masker yang saya kenakan pun saya buka tutup. Kadang saya basahin pakai air, supaya debu-debu yang berterbangan ini tersaring sebelum masuk rongga hidung. Saya memutuskan untuk berjalan lebih cepat dari yang lain. Nggak tau ada dorongan apa kala itu. Saya berada di barisan paling depan, mengawal rombongan 50 orang lebih pendaki.

“Sebelum subuh harus sudah sampai pokoknya...!”  tertanam di benak saya

Setelah berjalan beberapa menit, kami pun sampai dibatas vegetasi, pepohonan terakhir hanya sampai di sini. Di atas sana tidak ada lagi pepohonan. Sejauh yang dijangkau cahaya lampu senter, yang nampak hanyalah bongkahan batu super raksasa, jalan setapak dengan batu kerikil dan pasir di mana-mana. Track kali ini benar-benar sangat berbeda dan benar-benar yang namanya mendaki itu mungkin seperti ni. Untung waktu di pos Arcopodo saya menemukan tongkat sepanjang 2 meter. Pas sekali sama tinggi badan saya. Bisa membantu menjaga keseimbangan waktu berjalan di gundukan pasir yang sewaktu-waktu bisa longsor kapan saja.

Pendakian kali ini harus benar-benar fokus. Kemiringan medan yang mencapai 70o dengan batu pasir di mana-mana seperti itu, menuntut mata harus lebih awas. Jejakan kaki yang juga  harus mantap. Leher yang selalu mendongak ke atas, melihat medan. Jangan sampai lengah terkena batu, pasir dan kerikil yang bisa longsor kapan saja. Kalau ragu-ragu, tidak yakin melangkah atau salah pijakan bisa saja terpeleset atau tertimpa longsoran, atau bisa juga terjebur ke jurang yang berada si kanan kiri jalan setapak ini. Menjejakkan kaki maju 3 langkah, longsor turun lagi 2 langkah. “ hop... hopp... hopp...!” tancap tongkat di depan sebagai pegangan. Terus bertahan dan terus berjalan. Hanya itu yang saya lakukan.

Sesekali saya menengok kebelakang terlihat puluhan cahaya kecil senter bergerak merangkak lambat sekali. Saya berada di paling depan 10 meter diatas rombongan. Semakin ke atas, angin gunung super dingin terasa semakin kencang, berhembus dari sebelah kiri. Tubuh saya yang cukup besar pun rasanya mau roboh terbawa tiupan angin yang sangat kencang itu. Udara juga rasanya semakin tipis, jadi susah sekali untuk bernafas. Mau buka masker debu di  mana-mana, tutup masker rasanya sesak, ahh serba salah. Pantaslah, ketinggian waktu itu sudah mencapai 3000 meter lebih. Hidung saya rasanya nggak mau di ajak kompromi, mengeluarkan cairan yang tidak ada habis-habisnya. Udara pun rasanya semakin dingin, bisa mencapai 5 derajat suhunya.

Berjalan dalam kegelapan malam yang sangat pekat membuat semua pendaki hanya bisa terdiam. Semua fokus menjejakkan kaki di medan batu berpasir, menghela dan mengatur nafasnya masing-masing. Tidak sempat lagi mau ngobrol satu sama lain. 

Setelah sekian lama mendaki, sempat beberapa kali terjatuh dan terpleset terkena longsoran pasir yang terinjak, sampai juga di bebatuan yang cukup besar. Saya putuskan untuk isitirahat sebentar, mengatur nafas yang terengah-engah, meneguk minum untuk membasahi tenggorokan dan membenahi dan membasahi masker yang saya kenakan. Dari atas sini, di tengah keputusasaan dan kebosanan berjalan berjam-jam tidak sampai-sampai juga, Sang Pencipta menghibur saya dengan menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnyaa.

“Subhanallaaaaaaaaaaahhhhh..............................”

Tidak ada lagi kata yang bisa sy ucapkan. Speachlesssss...

Mendongak ke atas, langit malam yang sangat ceraaaaah sekali, berhiaskan jutaan bintang yang bertaburan dimana-mana.
Buanyaakk sekaliii........, baru kali ini melihat bintang rasanya dekat seperti ini.
Menoleh ke kanan, nampak lampu-lampu kota yang berkilauan di sana.

Belum lagi di tambah sabit nan indah tersenyum manis menemani perjalanan saya kala itu.
Manis sekalii dibandingkan biasanya....

“Ohhh, indahnyaaa mahakarya-Mu .....”

Dalam perjuangan yang benar-benar menguras tenaga. Rasa capek, lelah, melawan hawa dingin yang menyiksa. Dalam keheningan diantara gelap malam yang pekat di tengah hutan batupasir raksasa. Kecil sekali rasanya diri ini. Kala itu tidak ada lain yang ada di pikiran kecuali hanya Sang Pencipta, Allah Ajja Wa Jalla. Ucapan rasa syukur tiada henti atas nikmat dan karunia-Nya. Syukur atas nikmat umur dan hidup yang diberikan-Nya. Syukur atas orang-orang terkasih yang selalu mendoakan dan selalu ada di  kala susah. Syukur atas sahabat-sahabat terbaik yang selalu mendukung dan memotivasi. Dan bersyukur atas kesempatan bisa menikmati panorama alam  mahakarya-Nya yang luar biasa  ini.

Saya langsung teringat hafalan surat Al-Mulk yang tengah saya hafal waktu itu. Sambil berjalan mendaki dalam kegelapan. Lantunan surat Al Mulk ini menemani saya di sepanjang perjalanan,

 dst........
                         

“(1) Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (2)  Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun (3) Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?....  (5)  Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang..... (15) Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Al Quran: Al- Mulk)

Setelah berulang-ulang melantunkan ayat yang sangat indah ini. Setelah berulang kali istirahat, ambil minum, ambil nafas, dan sempat juga berbagi makanan dan minuman dengan beberapa pendaki. Setelah berulangkali pula terjatuh, terperosok dalam longsoran pasir, bangkit, jatuh, dan bangkit lagi. Akhirnya, sampailah di hamparan pasir dan bebatuan yang sangat luas. Iya, sampai juga di Puncak Mahameru 3776 mdpl. Di puncak kala itu masih gelap yang nampak hanya semburat jingga kemerahan di ufuk timur. Indah sekaliii..

(semburat jingga di ufuk timur mahameru)

Hati saya bergetar hebat. Tidak terasa mata berkaca-kaca, air mata pun menetes begitu saja.  Tidak ada yang saya lakukan kecuali memanjatkan puji syukur atas hidup dan karunia-Nya bisa sampai di sini.

Segera saja saya lepas masker,  syal, semua atribut yang saya kenakan. Segera saya ambil posisi, bergegas mengagungkan kebesaran Sang Pencipta. Dengan tubuh menggigil, kaku dan bergetar sejadi-jadinya melawan dingin yang menusuk sampai sumsum tulang. Saya kumandangkan adzan subuh dengan  sekeras-kerasnya,

Allahhuakakbar Allaaaaahuakbar...”

Allaaaaaaahhuakakbar Allaaaaaaaaaaaaaaahuakbar...”

.....................................


Alangkah bahagia sekali waktu itu. Tidak peduli angin sangat kencang super dingin, suhu berkisar 0-3o. Dingin sekali. Jaket berlapis-lapis yang saya kenakan pun rasanya tidak ada pengaruh, rasanya tetap saja seperti nggak pakai baju. Benar-benar menusuk-nusuk tulang.

“Alhamdulillaaahhhh..... Segala puji bagi-Mu Ya Allah Tuhan Seru Sekalian Alam ‘

Salah satu impian saya di Mahameru, mengumandangkan adzan di Puncak tertinggi, salah satu penyangga langit negeri, terwujud menjadi kenyataan.

(Impian pertama: mengumandangkan adzan di puncak tertinggi) 

“Tidak ada yang lebih  indah di dunia ini selain melihat impian kita terwujud menjadi kenyataan! Luaar Biasaaa!!! “

Dengan kamera kodak kesayangan, saya abadikan semua moment keindahan di puncak ini. Tidak saya lewatkan satu moment, bahkan dalam hitungan detik sekalipun. Mata rasanya tidak mau terpejam menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Keindahan dan kemegahan Mahameru, sunrise, awan-awan putih, dengan langit biru cerah, secerah-cerahnya yang membentang di sejauh mata memandang, serta panorama alam perbukitan di sekitar Mahameru. 

Bahkan kawah “Jonggring Saloka” yang setiap saat mengeluarkan letupan-letupannya itu pun tidak saya lewatkan dan berhasil saya abadikan semua.  Berjalan diantara bebatuan, mengelilingi hamparan pasir berbatu Mahameru dari ujung ke ujung.


(hamparan pasir berbatu dan langit biru cerah di mahameru)

Puaass sekali rasanya. Oya, Impian saya yang kedua di puncak Mahameru pun terwujud. Berfoto dengan menggunakan pakaian kebesaran jaket almamater dengan mengibarkan dwiwarna  merah putih dengan backround sunrise di puncak tertinggi, Mahameru juga menjadi kenyataan. Girang sekali saya waktu itu! Rasa lelah, capek, ngantuk, perjuangan menguras energi berhari-hari, setelah terjatuh, terpeleset, terperosok ke longsoran pasir berulang kali terbalas sudah, tuntas tas..tass....  semuanya berganti menjadi bahagia yang membuncah.

Tidak ada kata yang bisa lagi saya ucapkan untuk menggambarkan kebahagian saya selain itu. Indaaah sekali rasanya...


 ( Impian kedua: mengibarkan merah putih di mahameru dengan backround sunrise)


Dua impian sederhana yang mungkin biasa bagi orang lain, tetapi itu menjadi energi luar biasa bagi saya untuk jadi yang terdepan. karena kenyataannya, tidak banyak yang sampai di Puncak kala itu, apalagi yang dapat moment sunrise. Hanya sebagian kecil, yang punya kemauan dan tekad saja lah yang sampai di puncak mahameru ini.
  
Semua karena kekuatan impian dan cita-cita. Percaya akan keajaiban doa, keinginan yang kuat, keyakinan yang menancap dalam hati menjadi energi super yang tak terbatas akan mendorong kita melesat jauh ke depan.

Terakhir menutup cerita petualangan saya ini, mengutip tulisan Doni Dirgantoro dalam novelnya “5 cm”

“...mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar taruh di sini” , menggantung mengambang di depan kening kamu.


“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”

“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja..”

“Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya...”

“Serta mulut yang akan selalu berdoa...”

Bermimpilah! Seberapa besar mimpimu itu mencerminkan seberapa besar keyakinanmu akan Kuasa Tuhan untuk mewujudkan mimpi-mimpimu.

Sekian,

Salam 



Berikut bonuss beberapa jepretan saya di Mahameru yang bisa saya bagikan ke temen-temen semuaa....


( fajar menyingsing dari puncak mahameru)

( sunrise mahameru 1)

( sunrise mahameru 2)


(landskape kawah jonggring saloka)

(landskape panorama perbukitan dari puncak mahameru)

( view perbukitan dari puncak )

(hamparan batu pasir di puncak)

(kawah jonggring saloka yang tengah mengeluarkan awan panas)
yang terakhir, terbongkarlah identitas sy, hehe ^_^
( berfoto di tugu mahameru 3676 mdpl ^ ^ )

Labels

 

My Friends

My Twitter