Social Icons

Pages

Saturday, October 20, 2012

Pada kesempatan ini, saya mau cerita petualangan saya beberapa saat yang lalu di suatu tempat  yang bisa di katakan tiada duanya di dunia dan akhirat. Hehe...

Suatu perjalanan yang tidak  akan pernah lupa sampai kapanpun karena begitu berkesan dan menancap dalam di hati dan perasaan. Bahkan sampai sekarang saya masih bisa merasakan keindahan, keagungan dan kebesarannya yang masih tergambar jelas di pikiran.  

Perjalanan menjemput impian, petualangan yang bukan sekedar petualangan,  pendakian menuju puncak tertinggi tanah pulau jawa, puncak Mahameru.

Diawali dari niat, keinginan, dan  seperti panggilan jiwa rasanya. Setelah berbulan-bulan  disibukkan dengan berbagai aktivitas yang  sambung menyambung terus nggak pernah ada hentinya. Beban kuliah sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tentu tidak ringan, skripsi, sidang dan ujian akhir. Kegiatan kampus juga tidak henti hentinya luar biasa menguras energi pikiran, tenaga dan perasaan saya sebagai pengurus waktu itu. Belum lagi kegalauan memikirkan kekasih pujaan hati yang nggak jelas rimbanyaa, tabahkanlah hatimuu nak... :P hahaha...

Jadilah, bersama seorang teman, sahabat senasib dan sepenanggungan, memutuskan untuk pergi merefresh diri dulu, supaya tidak  stress dan bisa kembali semangat beraktivitas seperti semula. Kami putuskan waktu itu untuk pergi ke sana, Mahameru.

Waktu itu masih ingat sekali hari jumat , kami berangkat dari kos menuju stasiun pasar senen sekitar jam 10.00, kereta berangkat dari stasiun jam 14.05.  Jadi masih ada waktu untuk istirahat sebentar dan kami putuskan  untuk sholat jumat di sana saja. Kami berangkat naek kereta Matarmaja Ekonomi–AC jurusan Kotabaru, Malang. Harga tiket Rp.151.000,- itu  kami beli di indomaret dengan sistem online. Kalo temen-temen ada yg mau ke sana bisa pesan langsung tp jauh-jauh hari sebelumnya di stasiun senen, ada harga yang lebih murah Rp56.000,-  saja ka ekonomi, cocok lah untuk kantong mahasiswa.

Mungkin karena akhir pekan ,jadi lumayan suasana cukup padat ditambah cuaca kota Jakarta yang panas, membuat saya tidak sabar dan ingin segera sampai di kota tujuan, Malang. Waktu itu saya lihat juga beberapa rombongan dengan menggendong carrier-carries besar di punggung dan lumayan banyak juga. 

“Wah, banyak jg temen2 pecinta alam yang mau mendaki” pikir  sy

Di atas 20 orang lah dan sepertinya satu jurusan dengan kami. Kami sempat bertemu, bertegur sapa sebentar  dan ternyata benar mereka sama satu jurusan dengan kami. #alhamdulillahdapettemen  hehe

Karena gerbong kami berbeda, kami harus terpisah dan menuju gerbong masing-masing. Dengan carrier besar 100 L di punggung, kami cukup jadi pusat perhatian dengan mengenakan jaket hitam dengan logo merah putih di pundak kanan dan topi almamater yang kami kenakan berseragam, seolah kami dikiranya aktivis penyelamat lingkungan yang mengemban misi tugas negara. Padahal kami adalah anak muda yang kadang juga masih suka galau yang ingin bertamasya ria dan ingin mencari ketenangan dunia. Hahaha...

Di dalam kereta, meskipun kami naek kereta AC, seperti tidak ada bedanya dengan kereta yang tanpa AC. Nggak tau apa AC-nya yang kurang berfungsi normal atau memang saking panasnya cuaca waktu itu. Entahlahh... Meskipun harga tiket yang kami beli hampir 3 kali lipat, kami kiranya bakal dapat tempat yang lebih lah. Ternyata sama saja. Ya ada beda sedikit. Dinikmati aja lah pikir saya waktu itu.

Dari semenjak mulai masuk di stasiun sebenarnya saya berfikir. Sudah lumayan sih sebenarnya perbaikan pelayanan PT KA, kalau di bandingkan dulu. Sekarang kalau masuk stasiun aja kaya udah mau masuk bandara, check boarding pass, dll. Kalau belum jadwal nggak boleh masuk, tempat duduk di kereta 1 kursi juga cuma satu orang. 

Jadi teringat dulu, waktu awal-awal pulang kampung dari Jakarta 3 tahun yang lalu.  Coba naek kereta pertama kali. Waktu itu diajak oleh seorang teman. Saya masih ingat betul tiket cuma Rp.  24000,-. Gila ni 24 ribu perak Jakarta-Semarang. Dibandingkan biasanya kalau naek bus kan selisihnya berlipat-lipat. Makanya mau nyoba, apalagi kalau pas lagi kena kanker-> kantong kering, lumayan penghematan. Hehehe. 

Dan ternyataaa setelah naek, Wow, bener-bener dah. Bener-bener sesuai sama harganya. Sudah penuh sesek, berdiri, dan gak bisa gerak. Bayangin 12 jam malem-malem berdiri di kereta kaya apa rasanya. Dapat sandaran itu aja udah untung bangett, duduk itu juga gantian pas sampai tegal. Pokoknya tersiksa. Sampe rumah masuk angin! Nggak mau lagi! Titik.

Sekarang si sudah lumayan lebih rapi lah walaupun masih banyak kekurangan yang perlu perbaikan di sana sini. Ya kita dukung sajalah apapun program pemeritah melalu dinas-dinasnya untuk memperbaiki negeri yang lagi kena ujian ini. Kalu bisa sebagai warga negara yang baik ikut berkontribusi juga sesuai dengan kemampuan dan kebisaan kita di bidang dan instansi kita masing-masing. Bukan hanya terus menyalahkan dan menjelek-jelekkan negara atau instansi kita sendiri!

Itu rasanya "seperti meludah ke sumur yang tiap hari airnya kita minum"  *kata pepatah

Lanjut lagi deh. Perjalanan di kereta yang sangat panjang dan cukup membosankan. Untungnya waktu itu saya bawa buku, lumayan lah buat mengisi kekosongan. Di temani buku karya Isa Alamsyah yang judulnya "No Excuse", cukuplah membuat saya termotivasi dan terispirasi dari cerita-cerita yang ada di dalamnya. Inti pelajaran dari buku itu, Banyak dari kita mencoba mencari alasan untuk setiap hal yang menurut kita sulit, atau tidak mampu, dan menganggap kita wajar untuk merasa gagal. Padahal banyak orang-orang  sukses yang menjadikan kelemahannya dan  kegagalan sebagai langkah awal untuk menuju kesuksesan. NO EXCUSE! 

Setelah perjalanan melelahkan selama 18 jam di kereta kami akhirnya sampai juga di stasiun Kotabaru, Malang pukul 8.15 di keeesokan harinya. Singkat cerita dari stasiun kami sewa angkot menuju Pasar Tumpang, perjalanan sekitar 45 menit. Kami istirahat sebentar menghilangkan rasa cape karena perjalanan jauh, sempat mengisi perut biar gak kosong dan juga mencari logistik untuk perbekalan kami nanti di sana. Seusai dzuhur kami bersama rombongan para pendaki gunung Semeru melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian yaitu di Pos Ranupane. Perjalanan memakan waktu 2 jam dengan menggunakan truk pengangkut sayuran yang biasa di sewa oleh para pendaki atau bisa juga menggunakan jib. 

Waktu itu ternyata banyak juga pecinta alam yang akan mendaki jadi kami naek truk bersama banyak rombongan, ada yang dari Jakarta, Malang dan daerah-daerah lainnya.

( Truck yang kami gunakan untuk menuju Ranupane)
Oya temen-temen, untuk syarat administrasi pendakian jangan lupa bawa foto copy KTP beserta surat kesehatan, sama untuk pendaftaran itu Rp 7000,- dan asuransi Rp.5.000,-.  Nanti sebelum mendaki kita harus lapor terlebih dahulu ke petugas yang berada di pos untuk keamanan dan untuk ketertiban aja.

Oya sekedar saran aja, untuk temen-temen yang mau mendaki ke sana jangan lupa perlengkapan standart untuk naek gunung untuk di bawa, seperti: baju hangat, sleeping bag, sepatu/sandal gunung, makanan logistik dsb. Penting juga jangan sampai lupa bawa sunblock biar  muka nggak pecah-pecah, masker, dan kacamata juga untuk keamanan. Karena kalau lagi musim kemarau debu sama pasir berterbangan ke mana-mana. Kemudian yang wajib dan yang harus dibawa setiap naek gunung, tentunya kamera untuk mengabadikan momen dan keindahan di sana. Dan tentu jangan lupa bawa baterai cadangan! Biar puas foto2nya. hehe... Trus terakhir ni yang banyak diremehkan dan dianggap sepele tetapi sangat penting! Jangan lupa deh bawa entrostop, atau  tai ping san, atau norit, atau oralit, atau  diapet, atau ekstrak daun jambu, atau apa ajaa deh kalo perlu daun jambu sama pohon-pohon jambunya juga sekalian di bawa.! tau kann??? hhe. Biar nanti nggak bikin jejak di mana mana! :P *pengalaman   hahaha.....

Perjalanan dari pasar tumpang ke pos ranupani kita akan disuguhi pemandangan perbukitan tebing terjal dan pegunungan yang memanjakan mata. Belum lagi liat kebun-kebun apel penduduk warga dan yang paling takjub nantinya adalah melihat hamparan padang pasir yang membentang di kawasan gunung Bromo. Karena kemaren masih musim kemarau banyak pepohonan yang meranggas dan dan ilalang ilalang kering bahkan sebagian ada yang menunjukkan bekas ada terbakar.


( padang pasir gunung bromo)

( pepohanan yang kering dan seperti bekas terbakar )


Setelah mendaftar dan menyelesaikan administrasi di pos Ranupane, habis asyar  kami langsung berangkat. Bersama rombongan dari pecinta alam Lampea, Pasar Minggu yang kebetulan dari stasiun Malang kita selalu bersama, sepakat berangkat menjadi satu kelompok. Karena untuk pendakian harus rombongan minimal 3 orang katanya untuk keamanan, makanya kami berdua bergabung dan akhirnya nanti sepanjang perjalanan kami selalu bersama 8 orang dan nggak tau kenapa baru kenal langsung akrab gitu aja bahkan sampai turun gunung dan sampai sekarang. Ya mungkin karena sesama jiwa petualang. Sebelum perjalanan pendakian yang sesungguhnya kita akan di sambut gapura selamat datang  bagi para pendaki gunung semeru dan titik perjalanan pendakian dimulai dari sini!.


(pos ranupane)

(berfoto di gapura selamat datang para pendaki gunung semeru)

Setelah melewati beberapa tanjakan dan turunan dan sempat beberapa kali istirahat di setiap pos peristirahatan untuk minum atau sekedar ambil nafas. Dengan kabut yang cukup tebal dan udara dingin yang cukup menusuk kulit,  kami akhirnya sampai di Ranukumbolo jam 20.00 malam. Karena tidak mungkin dan terlau resiko kalau melanjutkan perjalanan kami akhirnya memutuskan untuk ngecamp dan menggelar tenda di pinggir danau Ranukumbolo. 

Setelah selesai memasang tenda, dan menjamak sholat maghrib dan isya. kami tepar dan memutuskan untuk langsung tidur aja. Nggak sempet lagi mikirin makan malam, dsb. Mungkin akumulasi rasa cape yang belum hilang habis perjalanan panjang Jakarta-Malang di tambah pendakian sekitar 5 jam yang cukup menguras tenaga kami.

Pagi harinya, Minggu, jam 4 pagi. Badan saya rasanya menggigil, padahal waktu itu sudah pakai baju hangat double dan sleeping bag. Namun akhirnyaa saya paksakan saja untuk bangun tayammum dan memutuskan sholat subuh di dalam tenda  aja, karena saking dinginnya. *padahal di depan gak kurang dari jarak 5 meter ada air berlimpah ruah.   hahahaha....
Pikir saya waktu itu, bolehkan kita bisa mengambil rukhsoh(keringanan) yang di berikan-Nya, kalau ada hal/ perkara  yang menghalanginya. Kalau bisa ambil jalan yang  mudah kenapa harus dipersulit??? Righttt?

Setelah menunaikan kewajiban sholat subuh, karena keinginan lihat pemandangan pagi hari di ranukumbolo dan melihat sunrise di sela-sela bukit, akhirnya sy putuskan keluar tenda   meskipun melawan rasa dingin yang benar-benar menusuk tulang, dinginnya ituu, Brrrrrrr....Luarrr biasaa...!!! Dan akhirnyaaaaaaaa............

"Subhanallaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh..........."

Cuma itu yang bisa sy ucapkan. Speachlessss....tidak bisa berkata kata lagi sy. 
Rasa cape, ngantuk, dan letih seakan hilang begitu saja saat menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan di depan mata, seperti serasa di alam lain. Beneraann!!!.

Mungkin inilah alasan kenapa para pendaki yang pernah ke sini, ingin dan akan kembali lani ke sini suatu waktu nanti. Ucapan syukur yang tiada hentinya saya panjatkan atas kenikmatan  dan kekuatan yang diberikan-Nya, saya bisa menyaksikan keindahan seperti ini. 

Hembusan angin superr dingin dengan suhu saya perkirakan 3-8 derajat pagi itu, sampe ada butir-butir es di atas tenda kami, tidak menyurutkan saya untuk mengabadikan momen itu dengan kamera kodak kesayangn. Dan inilah beberapa hasil jepretan saya di ranukumbolo yang bisa saya bagikan ke temen-temen semua.


(kabut ranukumbolo)

(sunrise di sela sela bukit)

(ngecamp di pinggir ranukumbolo)

(mana yang asli?  mana yang bayangan? :P)

(view dari dalam tenda)

(landskape ranukumbolo 1)


(landskape ranukumbolo 2)

Cukup sekian dulu deh ceritanya. Kelanjutannya mudah-mudahan bisa disambung lagi, hehe. Masih banyak yang belum saya ceritakan nih, mulai dari mitos tanjakan cinta, "lost in africa" di padang oro-oro ombo, kalimati yang katanya angker. Dan yang paling seru dan mendebarkan tentunya bagaimana perjuangan Summit Mahameru yang fenomena dan legendarisl itu. Bersambung...



Labels

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

My Friends

My Twitter