Social Icons

Pages

Friday, November 16, 2012


Hari ini selesai sudah saya membaca buku yang sangat inspiratif, karya penulis muda Ahmad Rifa’i Rif’an yang sudah menelurkan belasan karya, yang salah satunya  berjudul  “Man Shabara Zhafira”.  

Dalam buku yang saya beli sebelum berangkat ke daerah ini, banyak cerita motivasi yang dipaparkan oleh penulis dengan rapi dan mengalir, sehingga sangat enak sekali dibaca. Selain memberikan motivasi, buku ini lebih banyak menekankan pentingnya kesabaran meraih kesuksesan dalam perjalanan hidup. Bahwa tugas manusia adalah berusaha dan berdoa dengan sekuat tenaga dan meyakini dengan mantab bahwa Allah swt akan memberikan sesuatu dengan indah pada waktunya. Berikut sedikit ulasan singkat dari buku yang sangat bergizi dan high recomended ini buat temen-temen semuaa...

********************

Jika seseorang ditanya, apakah menginginkan kesuksesan dalam hidupnya? Pasti semua orang (yang tidak gila) menginginkan kesuksesan. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya.  Seorang pelajar ingin sukses dalam studinya. Seorang pegawai ingin sukses dalam karirnya. Seorang pebisnis juga ingin sukses dalam usahanya. Seorang yang tengah jatuh cinta, ingin sukses dengan cintanya. Seorang yang berencana segera menikah, juga pasti ingin sukses dalam pernikahannya. Begitu pula yang sudah berumah tangga , ingin sukses dalam mengarungi kehidupan rumah tangganya. Begitu seterusnya, semua orang mengingingkan satu kata, yaitu ‘kesuksesan’.

Kalau semua orang mengharapkan yang namanya kesuksesan, lalu kenapa sebagian besar orang malah banyak yang menemui kegagalan? Apakah penyebabnya???

Hal ini bisa disebabkan oleh paling tidak ada tiga kemungkinan. Yang pertama, kemungkinan orang ini tidak tau bagaimana caranya meraih kesuksesan. Yang kedua, orang ini tau cara bagaimana meraihnya tetapi tidak melakukan apa-apa dan hanya diam saja. Yang ketiga orang ini tau persis cara untuk meraih kesuksesan tetapi tidak sabar dalam menjalani proses menuju ke tempat dimana benar-benar orang ini pantas dan berhak memiliki kesuksesan dalam hidupnya.

Penyebab yang terakhir inilah yang seringkali menjadi penghambat seseorang yang sudah punya impian yang matang dan harapan yang tinggi namun  jauh dari apa yang diharapkan. Seperti kata pepatah “Jauh panggang daripada bebequee”, ehh “dari pada api maksudnya.” hehe

Semua pelajar tau kalau ingin pintar dan sukses dalam studinya, satu-satunya langkah yang paling bisa ditempuh adalah dengan rajin belajar, entah itu lewat buku, nanya guru, buka internet dan banyak cara yang bisa dilakukan. Namun banyak dari kita yang tidak sabar untuk menjalani proses tersebut. Malas, jenuh, bosan, dan banyak alasan lain yang membuat kita jadi tidak rendah minat untuk belajar. Inginnya yang serba instan. Belajar sistem sks, tau kan?? Sistem kebut semalam, hehe. Ini masih jauh lebih mendingan. Sekarang metode bermacam-macam banyak digunakan,  di abad milenium yang serba canggih, semua dihalalkan untuk yang namanya mencontek. Padahal kita juga tau tidak ada yang namanya pintar dan sukses dalam studi dari hasil nyontek. Akibat dari yang seperti inilah semangat kita untuk meraih kesuksesan jadi terkikis karena hal-hal sepele dan kita jadi terbiasa dengan sesuatu yang serba instan.

Tadi baru seorang pelajar, kalau kita amati lebih mendalam lagi. Seorang pekerja, pegawai, pebisnis dengan apapun usaha dan pekerjaannya, yang berhasil sukses adalah dia yang telah berhasil melewati segala proses dan rintangannya. Baik itu masalah, pelajaran kegagalan, dan berbagai batu sandungan lainnya dengan jiwa penuh kesabaran pada diri mereka. Perbedaan tingkat kesabaran inilah yang membedakan orang sukses dengan orang yang biasa gagal di luar sana.

Dalam bukunya, penulis menyebutkan:

“Orang sukses menjadikan gagal sebagai media pembelajarannya meraih puncak kesuksesan. Sedangkan yang lain menganggapnya sebagai bencana. Orang sukses melihat kebangrutan sebagai batu loncatan, sedangkan orang gagal menganggapnya sebagai batu sandungan. Orang sukses menganggap masalah sebagai tantangan, sedang orang gagal menganggapnya sebagai ancaman. Orang sukses menyikapi masalah dengan kesabaran, sedang orang gagal menyikapi masalah dengan keluhan.”

Man Shabara Zhafira. Inilah rumus sakti dalam mewujudkan kesuksesan.

Jangan pernah melihat orang sukses hanya di puncak kesuksesannya saja. Tetapi lihat juga prosesnya. Saya yakin apa yang didapatkan sebanding dengan tingkat kesabaran dan pengorbanannya. Jangan hanya melihat kesenangan dan indahnya berada dipuncak gunung tertinggi. Tetapi lihat jugalah perjuangan berjalan berjam-jam bahkan berhari-hari di  hutan, menguras peluh keringat dengan membawa beban yang tidak ringan untuk menuju satu tujuan, yaitu ‘puncak kesuksesan’.

Tidak ada yang ujug-ujug, langsung mendapatkan semua apa yang kita inginkan. Semua pasti melalui jalan yang bertabur masalah, rintangan, godaan, serta berbagai kesulitan yang harus kita hadapi. Seseorang bisa di katakan pemenang jika telah berhasil menaklukan itu semua. Seseorang bisa disebut berhasil dan sukses setelah dia dengan baik menuntaskan semua ujian dan permasalahan yang diberikannya dengan penuh kesabaran. Sekali lagi, perhatikan rumus hidup dari semua orang sukses di dunia. Man Shabara Zhafira!

Sekian
Semoga bermanfaat


Wednesday, November 14, 2012

Stop Mengeluh!


Salah satu sifat manusia yang paling jamak adalah sifat suka mengeluh. Entah itu berwujud perkataan, tindakan, atau sekarang lagi populer adalah ber socmed ria, di facebook, twitter dan sebagainya. Banyak sekali yang dijadikan alasan, baik itu karena nasib buruk, rezeki kurang, atau intinya hal yang diharapkan tidak sesuai dengan realita saat ini. Misalnya saja, waktu tinggal dikeramaian, ngeluh katanya bising sumpek, mau mencari ketenangan. Dipindah di daerah sepi. Ngeluh, koq sepii??? Waktu dikasih kesibukan katanya kerjaan nggak ada habis-habisnya. Waktu dikasih santai, ngeluh koq nggak ada kerjaan begini??? Keadaan disalah-salahkan. Bahkan cuaca juga tidak luput jadi korban. Waktu panas ngeluh minta hujan, dikasih hujan ngeluh minta panas. Dikasih hujan panas, malah dibilang hujan monyet!! Ehhh.. maunya apaa ini manusia??? Termasuk saya juga sih, hehe 

Kata-kata yang keluar dari mulut sesorang itu mempresentasikan isi didalamnya. Kalau dia suka mengeluh berarti menandakan betapa lemahnya mentalitas yang ada dalam dirinya. Lebih banyak hanya akan mencari pembenaran diri, dan selalu saja menyalahkan keadaan.

Padahal kalau dipikir dan direnungkan kembali, masalah itu muncul tidak lain dan tidak bukan karena pikiran kita sendiri. Ada pepatah bijak mengatakan :

“Kita  tidak akan pernah bisa merubah arah angin, yang dapat kita lakukan adalah mengubah arah sayap.”

Dengan kata lain...

'Realita' keadaan kita sekarang tidak akan berubah kecuali kita sendirilah yang mengubah 'sudut pandang' terhadap realita yang ada ! 

Seringkali orang memandang suatu hal tidak dari segi positifnya, melainkan dari sisi sebaliknya. Seolah keadaan yang membuat seperti itu, sehingga membuat dia menganggap hal itu adalah takdir dan tidak berani melakukan perubahan dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu adanya perubahan tersebut. 

Menunggu bantuan orang lain, menunggu bantuan teman untuk mendapatkan pekerjaan yang enak, sampai menunggu warisan. Sekarang logikanya, jika memang hanya dengan menunggu perubahan itu akan datang, maka jumlah orang sukses seharusnya jauh lebih banyak.

Bukankah kenyatannya tidak demikian?

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan? 

Berikut just sharing tips yang saya dapatkan dari penggerak bisnis online, anne ahira, yang rutin mengirim artikel motivasi ke email saya,

Ciptakan perubahan! 

Jangan selalu menunggu orang lain. 

1. Do your best, whatever happens will be for the best! 

    Lakukan dan selesaikan semua tugas dan pekerjaan semaksimal mungkin, bukan hanya terus menunggu dan berharap. Lakukan semuanya dengan tujuan untuk selalu mendapatkan hasil terbaik yang bisa kita capai.

2. Mulai buat jaringan seluas-luasnya. 

    Dengan banyak mengenal orang, maka pengetahuan kita akan semakin bertambah. Seseorang yang kelihatannya sederhana bisa jadi menyimpan kedalaman ilmu yang tidak kita duga! Oleh sebab itu, alangkah bijaknya jika kita menjadikan 'setiap orang adalah guru' dan kehidupan ini adalah universitasnya.

3. Berusahalah selalu untuk bersikap proaktif. 

Sikap ini sangat diperlukan jika ingin mendapatkan kesempatan yang lebih luas dan cepat dalam berbagai macam hal !

4. Bersikaplah Fleksibel. 

Cobalah untuk memahami suatu hal dari berbagai sudut pandang. Jangan terpaku pada satu cara, yang bisa jadi tidak lagi relevan kita gunakan. Dengan bersikap fleksibel, wawasan kita akan semakin bertambah. Satu hal penting yang harus selalu diingat:
Kita-lah yang memutuskan untuk berubah. Kita-lah yang menentukan menjadi sukses, bukan orang lain!

Jika pilihan sukses tidak pernah kita ambil, maka orang lain akan mengambil pilihan tersebut. Dan, kita akhirnya hanya akan menyaksikan kesuksesan mereka, tanpa pernah merasakannya...

Sekian, Semoga Bermanfaat



Inspired by artikel anne ahira

Monday, November 12, 2012

Hikmah Sakit



Akhir-akhir ini, tepatnya 2-3 hari ini tidak tau kenapa badan saya rasanya lemass, meriang, pusing, pilek, bawaannya pengen tiduran aja di kasur. Mau mengerjakan aktivitas atau pun sekedar jalan keluar rumah aja, malas sekali rasanya. Sakit kok datangnya nggak tepat waktu gini? Pas banget lagi, pas banyak kerjaan di rumah yang harus diberesi, kerjaan kantor yang juga harus diselesaikan. Pas tinggal di rumah sendiri lagi. Haduuhhh... nggak bisa apa ya, nanti aja sakitnya??? Sakit kok di atur-atur suruh tepat waktu?! hehe



Biasanya juga nurut-nurut aja kalau ajak kerja kemana-mana, jarang-jarang ngambek begini. Kenapa ini??? Sejenak saya merunut kebelakang.

Oh yaa, kemarin tidur aja nggak teratur, baru juga pindah belum adaptasi sama tempat baru udah begadang aja, kalo belum jam 12 nggak tidur. Jarang-jarang buat istirahat dan tidur siang. Malah keasyikan jalan-jalannya sampai malam, pakai hujan-hujan lagi. 

Panteslah...., badan kan bukan robot yang bisa di atur-atur kemana-mana, di ajak kerja terus-menerus, kadang juga ada capenya punya keterbatasan dan perlu istirahat.


Di ambil hikmahnya aja. Bukankan Rasulullah pernah mengatakan, sakit yang datang dalam tubuh seorang muslim itu bisa jadi penggugur dosa-dosa hamba-Nya. Righht??

Nahh, bagi yang saat ini sedang sakit, saya doakan semoga cepat sembuh. Yang penting itu sabar dan tabah. Jangan sampai mencela penyakit yang kita derita, seperti pesan Rasullullah.

“Janganlah kamu mencela sakitmu. Karena sesungguhnya sakit itu mengikis kesalahan anak cucu Adam sebagaimana bara api mengikis keburukan besi.” (HR. Muslim)

Bagi yang diberi nikmat sehat, ingat juga salah satu 5 pesan suri teladan kita yang sudah sering kita dengar, “...gunakanlah waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu...” Makanya ketika sehat harus banyak bersyukur yaitu dengan mengisi waktu yang kita punya dengan kegiatan yang positif.

Waktu itu adalah salah satu karunia yang sangat berharga yang diberikan kepada manusia. Hidup kita tidak lain adalah waktu itu sendiri. Kalau kita tidak berusaha mengisi waktu kita dengan kebaikan, itu artinya kemungkinan besar hidup kita juga akan terisi dengan keburukan. #kutipan

Kalau sudah sakit, kebanyakan dari kita baru menyadari betapa nikmatnya waktu sehat. Begitu banyak nikmat Allah yang selama ini lalai untuk ia syukuri. Mau kemana dan makan apa kalau badan sehat juga enak. Makanya, jagalah kesehatan! 

Kemudian hikmah sakit selanjutnya adalah sebagai pendidikan. Ketika seseorang sakit, apalagi sakit parah, ia akan memahami betapa mahalnya nilai kesehatan. Ia pun rela mengeluarkan segala yang ia miliki demi kesembuhan penyakitnya.

Kemudian hikmah sakit yang ketigasakit merupakan teguran atas kesombongan manusia. Ketika sehat, manusia terkadang bertingkah seolah-olah dialah yang paling gagah, paling berkuasa tidak ada yang bisa menghentikannya. Padahal kalau diberi sakit demam saja, paling cuma bisa terbujur tiduran di kasur, tidak bisa apa-apa.

Yang ke empat, ketika sakit, kita akan lebih peka bagaimana rasanya keadaan waktu sakit itu sendiri, perlu dihibur dan sebagainya. Makanya kalau kita dengar ada saudara kita yang sakit, kita bisa peka untuk menjenguk dan menghiburnya.

Alangkah mulianya Allah swt yang telah menciptakan segala sesuatunya tidak ada yang sia-sia. Hanya satu sakit yang Dia timpakan kepada manusia. Akan tetapi, begitu banyak kebaikan yang dikandungnya. Kebaikan bagi si sakit yang sabar, dan kebaikan bagi yang sehat untuk selalu bersyukur.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari apapun yang diberikan-Nya.

Tetap semangat !!! :D

Friday, November 9, 2012



Tulisan ini saya buat setelah beberapa saat menunaikan ibadah sholat subuh, tepatnya setelah 5 hari kepindahan saya di tempat yang baru. Dengan cuaca yang cukup dingin, karena hari sebelumnya kota pelabuhan kecil ini di guyur hujan yang cukup lebat, membuat saya harus mengenakan jaket untuk sedikit memberikan rasa hangat di badan. Di dalam ruang tengah rumah dinas yang cukup besar yang saya tempati sendiri, ditemani secangkir teh hangat dan mp3  tilawah surat Ar-Rahman yang dilantunkan sangat merdu oleh Syeh Sa’ad Al-Ghamidi, dengan lincahnya jari-jemari saya pun menari di atas keypad laptop kesayangan yang sudah menemani beberapa tahun ini. Hmm.....   Alhamdulillah...  cukup menentramkan ditengah suara serangga bersaut-sautan  di luar rumah.

Ucapan syukur saya panjatkan, meskipun belum bisa sepenuhnya menyesuaikan diri di tempat baru ini.  Saya masih jauh lebih beruntung dari pada sekian juta orang diluar sana.  Yakin saja Allah SWT sudah menyiapkan planning yang terindah dibalik keadaan dan kondisi kita sekarang. Apapun keadaan atau masalah yang kita hadapi, patut dan layaknya harus disyukuri, karena Allah selalu punya maksud dan pelajaran di setiap masalah  dalam kehidupan kita. 

Baiklah, pada kesempatan ini saya  mau bercerita bagaimana harus adapatasi di lingkungan yang baru ini. Bagi kita, yang biasa tinggal di lingkungan yang mayoritas masyarakat yang berculturkan islam, tentunya seruan shalat atau adzan bisa kita dengarkan  melalui speaker-speaker masjid dengan begitu lantang dan kerasnya. 

Jadi ingat, waktu masih kost kebetulan kosan saya berada di samping persis di samping masjid. Kalau adzan subuh saja rasanya speakernya seperti di taruh persis di langit-langit kamar, kedengaran keras sekali. Mau tidak mau, bangun tidak bangun ya pasti akan bangun, untuk menunaikan jamaah sholat subuh. Tidak perlu waktu lama dengan sekejap sudah sampai di masjid. Kali ini, di tempat baru pertama saya bersyukur, alhamdulillah sekali mayoritas masyarakat adalah muslim. Masjid tidak jauh, paling hanya setengah kilo dari rumah. Hehe...


Lumayan lah, bagi saya yang dikaruniai kaki cukup jenjang dan langkah yang cukup lebar 2 kali dari rata-rata kebanyakan orang,  untuk jalan tidak sampai 10 menit. Wong untuk naik gunung berjam-jam aja kita sanggup, masa untuk memenuhi panggilannya kita berat #tamparan #plakplak

Meskipun suara adzan yang terdengar sayup-sayup seperti radio nggak ada dapat sinyal,

bersyukur dan masih beruntung sekali lah saya masih bisa dengar seruan-Nya.  Pernah saya diceritakan oleh seorang  teman yang dapat penempatan di barat pulau sumatera sana. Tidak perlu lah disebutkan orangnya. hehe



Katanya cuma dia yang  muslim sendiri di kantor dan bahkan di kampung dimana ia tinggal. Bayangkan? Jangankan berharap mau dengar adzan,  kalau mau sholat jumat saja harus ke masjid di kota yang perjalanan buat ke sana  tidak sebentar. Hmmm..., dibandingkan keadaannya tentu saya lebih beruntung.

Kata Ahmad Rifai’ Rif’an dalam  buku yang sangat bagus yang tengah saya baca “Man Shabara Zhafira”, dituliskan:

Kalau kita mendengar seseorang mengeluh bahwa kehidupan atau masalah itu berat, tanya saja dibandingkan dengan apa???”

Katanya bagaimana biar kita bisa bersyukur, yaitu senantiasa melihat ke bawah. Melihat kondisi orang-orang yang kekurangan, keterbatasan, kesusahan. Karena dengan demikian kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Lain halnya dengan ilmu dan amalan kita harus melihat ke atas, agar selalu termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dalam Al-Quran pun diterangkan tidak ada seorang manusia pun yang hidup di dunia ini, yang tidak diuji oleh Allah SWT. Semua manusia pasti akan diuji oleh Allah, dan itulah hakikat hidup di dunia ini. Seperti dalam firman-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kalau biasanya terdengar suara adzan yang lantang dan begitu kerasnya. Kini harus mencari suara sayup-sayup suara adzan yang terdengar.

Kalau biasanya untuk memenuhi panggilan adzan, bisa dengan secepat kilat dan tidak perlu bersusah-susah. Kini harus lebih mempercepat langkah, datang ke masjid pas pada waktunya agar tidak masbuk untuk berjamaah

Kalau biasanya bakdha subuh dan bakdha maghrib biasa mendengar tilawah, dan rasanya ada yang hilang kalau kita tidak ikut tilawah. Kini harus tilawah dalam kesendiran.

Kalau biasanya pas lagi malas atau ketiduran selalu ada teman yang mengingatkan dan membangunkan. Kini hanyalah kesadaran diri, semoga tidak goyah dan tetap istiqomah.

Kalau biasanya selalu ada suntikan rukhiah dan penambah ghirah melalui halaqah atau kajian perpekan, kini harus inisiatif sendiri mendatangi majelis ilmu atau membaca buku untuk memotivasi diri.

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Semoga kita tetap semangat dan istiqomah menjalankan perintahnya.

Semoga bisa  bermanfaat dan terutama menjadi pengingat buat penulis.

  

Wednesday, November 7, 2012

Ilmu Ikhlas


Apa kabar temen-temen semua??? Semoga selalu semangat dan pantang menyerah menjalankan aktivitas hari ini. Setelah beberapa hari hijrah ke tempat dan lingkungan baru, yang cukup menyita waktu dan tenaga, akhirnya bisa posting juga di blog ini setelah 3 hari lost. hehe. Semoga perpindahan ke tempat baru ini juga menjadi semangat baru untuk berkarya lebih baik lagi. Untuk kali ini, tidak berpanjang lebar langsung saja saya mau bahas mengenai ilmu ikhlas, mari di sila,

Kebanyakan dari manusia meyakini bahwa hidup itu adalah perjuangan. Bisa perjuangan mengejar rezeki, jodoh, karir atau yang lainnya. Lazimnya untuk meraih itu semua dilakukan dengan berjuang sekuat-kuatnya untuk meraih keinginannya. Untuk dapat rezeki, dilakukan dengan  kerja keras siang malam, banting tulang, peras keringat, pokoknya sampai titik darah penghabisan. Jodoh juga, pokoknya kejar kalau perlu pepet terus sampai dapat. Berdoa sepanjang malam,  “Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah… Tapi kalau bukan jodohku, Jodohin dong….”  Hahaha, ada-ada saja.

Mungkin temen-temen pernah merasakan, ketika kita mengejar sesuatu, ngotot banget, semua energi kita fokuskan ke situ,  susaaah sekali dapatnya. Tetapi seketika sudah sampai di titik ujung, kemudian pasrah, ikhlas. Ehhh, kok malah datang sendiri. Anehh .....

Atau waktu nyari barang yang hilang, dicari ke mana-mana, buka ini buka itu nggak ketemu-temu. Namun setelah diikhlaskan, pasrah. Ehhhh, malah datang sendiri di pikiran dan tiba-tiba ingat barangnya ada dimana. Sering mengalami kejadiaan seperti ini?

Padahal sebenarnya kalau direnungkan lagi, agama juga sudah mengajarkan bahwa kewajiban manusia itu ikhtiar sampai mentok, mengenai apapun hasilnya harus dipasrahkan, ikhlas dan disyukuri. Bukankah Sang Pencipta sendiri yang berjanji akan menambah nikmat bagi manusia yang bersyukur. Yah, tinggal menikmati proses ikhtiarnya dan menyerahkan semua urusan  hanya kepada Allah swt. Bukannya Dia yang mengetahui sebaik-baik urusan?? RIgghhtt ???

Inilah yang namanya ilmu ikhlas.

I-k-h-l-a-s. 6 huruf yang gampang sekali diucap tapi susah sekali dipraktekkan. Iyaa nggak? Diucapkan dibibir sih gampang, kucing sebelah pun pasti bisa kalau dilatih. Hehe

Tetapi menciptakan peristiwa ikhlas di dasar hati sanubari yang terdalam ini sangat memerlukan keterampilan, latihan dan pembiasaan! Kalau kita sudah bisa mengikhlaskan sesuatu sampai di pikiran dan perasaan, energinya tentu akan benar-benar powerfull. Karena yang bekerja di situ adalah kekuatan Tuhan, low off atraction. Tau kann?? Hukum tarik-menarik,

“Sesuatu akan menarik pada dirinya segala sesuatu yang satu sifat dengannya”

Dalam buku Quantum Ikhlas, tulisan Erbe Sentanu, diterangkan.

“Nasib seseorang mencerminkan karakternya. Sementara karakter orang itu berasal dari semua kebiasaan serta tindakannya. Dan tindakan berasal dari pikirannya yang bermuara pada perasaannya. Nasib, karakter, kebiasaan dan tindakan adalah sesuatu ‘yang tampak’, sementara pikiran dan perasaan adalah energi kuantum ‘yang tak tampak’.”
“Kenyataan kuantum ini mengatakan : Kita bisa mengatur perasaan untuk mengubah nasib kita. Otomatis!”

Dalam bukunya  Stephen Covey, The Speed of Trust juga dituliskan:

“...untuk meraih tujuan hidup, tidak ada sesuatu yang bisa melebihi kecepatan trust...”

Sungguh benar, kalau kita  percaya terhadap diri sendiri,  dan yang paling utama percaya kepada Allah SWT, atau bisa ikhlas. Tentu itu akan menjadi doa dan energi yang bisa mengaktivasikan keinginan-keinginan kita menjadi daya dorong, dan tenaga yang sangat powerfull menuju tercapainya keinginan kita tersebut.

Dalam Alquran, juga dengan gamblang dan sangat jelas bahwa, 

“Allah itu dekat, berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan!

Kebenaran didalam Alquran tentu sangat mutlak dan tidak perlu diragukan lagi. Iya, ada tiga cara Allah mengabulkan doa atau keinginan kita,

Apabila Allah mengatakan ya, berarti kita mendapat apa yang kita inginkan!

Apabila Allah mengatakan tidak, berarti kita akan mendapatkan gantinya yang lebih baik!

Apabila Allah mengatakan tunggu, berarti kita belum pantas untuk mendapatkannya. Untuk itu kita harus memantaskan diri di hadapan-Nya. Dengan apaa??? Ikhtiar, amal dan doa dengan sebaik-baiknya. Insyaallah kita akan mendapatkan yang terbaik disaat tepat menurut Allah.

Allah tidak akan pernah terlambat. Dia juga tidak tergesa-gesa. Dia selau tepat waktu dan selalu punya alasan dibalik semua kejadian dalam hidup kita. Kalau doa belum terjawab mungkin karena kita belum pantas atau akan diganti dengan yang lebih baik. Insyaallah....

Be Positive dan terus berprasangka baik saja terhadap-Nya! :D


Semoga bermanfaat

Salam

Saturday, November 3, 2012


Seringkali kita merasa hidup ini penuh dengan berbagai cobaan, seolah-olah Tuhan tidak adil kepada kita. Kenapa hidup harus begitu susah, berbagai kesulitan menghampiri kita setiap saat. Masalah datang bertubi-tubi tiada hentinya. Masalah satu selesai, timbul masalah yang lain lagi, begitu terus-menerus. Kenapa juga hidup harus susah seperti ini???

Berikut sepenggal kisah sederhana dari seekor anak katak, semoga bisa menginspirasi. Langsung saja mari kita simak kisah berikut ini:

*********************
Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap.

"Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya.

Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita.
Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil.

 "Ibu, itu apa lagi?
Apa itu yang kita tunggu-tunggu? " tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan.
 "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan.

Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.

"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar.

Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu  menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya.

Tapi juga gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus memejamkan mata.

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai.

 "Itu cuma petir.  Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan.

Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"

***************************

RENUNGAN :

Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan.
Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. 




Inspired by Life Excellent Center

Thursday, November 1, 2012

Pegawai Sejati


Seringkali kita mendengar para pekerja atau pegawai yang mengeluh atas keadaan yang dialaminya. Entah itu gajinya kurang, minta naek gaji, susah  ngajuin naik pangkat, atasan  nggak pengertian, suka menginjak-injak bawahan dan sebagainya. Bahkan sudah menjadi aksioma yang namanya pegawai sejati itu, sudah pasti kerja berat. Salah sedikit dicaci maki, dituntut loyalitas yang tinggi, kalau tidak loyal dimutasi, pulang cepat dimarahi, hidup kaya dicurigai, nanya menuntut gaji ditandai, nggak hati-hati masih kena sangsi.

Haaahhh...., Komplit sudaaah, lebih komplit dari bakso yang paling komplit. Hehehe....

Apakah tidak ada cara supaya keadaan lebih membaik???

Apakah ada pilihan untuk peningkatan kualitas hidup???

Tentu! Pasti ada. Bagaimana caranyaa????

Jadi pegawai itu yang penting jujur, rajin, dan kerja sebaik-baiknya nggak perlu mengeluh, nuntut kenaikan pangkat, gaji, minta pindah, dsb.

Yang penting berusaha jadi yang paling rajin, paling jujur dan yang paling bisa memimpin diantara yang lainnya.

Kalau kita bisa menjadi seperti di atas, tentu kita yang akan di kejar-kejar atasan.
Untuk kenaikan pangkat, gaji dan karir pun akan mengikuti tanpa perlu kita tuntut.

Biarlah atasan yang menilai. Kalau atasan gak pinter menilai masih ada atasan lain yang lebih tinggi yang masih pinter menilai.

Kalau atasan masih nggak pinter menilai juga, biarlah Sang Maha Penilai yg kasih nilai :D

Ayo semangat untuk para pegawai sejati ! :D


Labels

 

My Friends

My Twitter