Social Icons

Pages

Wednesday, November 14, 2012

Stop Mengeluh!


Salah satu sifat manusia yang paling jamak adalah sifat suka mengeluh. Entah itu berwujud perkataan, tindakan, atau sekarang lagi populer adalah ber socmed ria, di facebook, twitter dan sebagainya. Banyak sekali yang dijadikan alasan, baik itu karena nasib buruk, rezeki kurang, atau intinya hal yang diharapkan tidak sesuai dengan realita saat ini. Misalnya saja, waktu tinggal dikeramaian, ngeluh katanya bising sumpek, mau mencari ketenangan. Dipindah di daerah sepi. Ngeluh, koq sepii??? Waktu dikasih kesibukan katanya kerjaan nggak ada habis-habisnya. Waktu dikasih santai, ngeluh koq nggak ada kerjaan begini??? Keadaan disalah-salahkan. Bahkan cuaca juga tidak luput jadi korban. Waktu panas ngeluh minta hujan, dikasih hujan ngeluh minta panas. Dikasih hujan panas, malah dibilang hujan monyet!! Ehhh.. maunya apaa ini manusia??? Termasuk saya juga sih, hehe 

Kata-kata yang keluar dari mulut sesorang itu mempresentasikan isi didalamnya. Kalau dia suka mengeluh berarti menandakan betapa lemahnya mentalitas yang ada dalam dirinya. Lebih banyak hanya akan mencari pembenaran diri, dan selalu saja menyalahkan keadaan.

Padahal kalau dipikir dan direnungkan kembali, masalah itu muncul tidak lain dan tidak bukan karena pikiran kita sendiri. Ada pepatah bijak mengatakan :

“Kita  tidak akan pernah bisa merubah arah angin, yang dapat kita lakukan adalah mengubah arah sayap.”

Dengan kata lain...

'Realita' keadaan kita sekarang tidak akan berubah kecuali kita sendirilah yang mengubah 'sudut pandang' terhadap realita yang ada ! 

Seringkali orang memandang suatu hal tidak dari segi positifnya, melainkan dari sisi sebaliknya. Seolah keadaan yang membuat seperti itu, sehingga membuat dia menganggap hal itu adalah takdir dan tidak berani melakukan perubahan dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu adanya perubahan tersebut. 

Menunggu bantuan orang lain, menunggu bantuan teman untuk mendapatkan pekerjaan yang enak, sampai menunggu warisan. Sekarang logikanya, jika memang hanya dengan menunggu perubahan itu akan datang, maka jumlah orang sukses seharusnya jauh lebih banyak.

Bukankah kenyatannya tidak demikian?

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan? 

Berikut just sharing tips yang saya dapatkan dari penggerak bisnis online, anne ahira, yang rutin mengirim artikel motivasi ke email saya,

Ciptakan perubahan! 

Jangan selalu menunggu orang lain. 

1. Do your best, whatever happens will be for the best! 

    Lakukan dan selesaikan semua tugas dan pekerjaan semaksimal mungkin, bukan hanya terus menunggu dan berharap. Lakukan semuanya dengan tujuan untuk selalu mendapatkan hasil terbaik yang bisa kita capai.

2. Mulai buat jaringan seluas-luasnya. 

    Dengan banyak mengenal orang, maka pengetahuan kita akan semakin bertambah. Seseorang yang kelihatannya sederhana bisa jadi menyimpan kedalaman ilmu yang tidak kita duga! Oleh sebab itu, alangkah bijaknya jika kita menjadikan 'setiap orang adalah guru' dan kehidupan ini adalah universitasnya.

3. Berusahalah selalu untuk bersikap proaktif. 

Sikap ini sangat diperlukan jika ingin mendapatkan kesempatan yang lebih luas dan cepat dalam berbagai macam hal !

4. Bersikaplah Fleksibel. 

Cobalah untuk memahami suatu hal dari berbagai sudut pandang. Jangan terpaku pada satu cara, yang bisa jadi tidak lagi relevan kita gunakan. Dengan bersikap fleksibel, wawasan kita akan semakin bertambah. Satu hal penting yang harus selalu diingat:
Kita-lah yang memutuskan untuk berubah. Kita-lah yang menentukan menjadi sukses, bukan orang lain!

Jika pilihan sukses tidak pernah kita ambil, maka orang lain akan mengambil pilihan tersebut. Dan, kita akhirnya hanya akan menyaksikan kesuksesan mereka, tanpa pernah merasakannya...

Sekian, Semoga Bermanfaat



Inspired by artikel anne ahira

Monday, November 12, 2012

Hikmah Sakit



Akhir-akhir ini, tepatnya 2-3 hari ini tidak tau kenapa badan saya rasanya lemass, meriang, pusing, pilek, bawaannya pengen tiduran aja di kasur. Mau mengerjakan aktivitas atau pun sekedar jalan keluar rumah aja, malas sekali rasanya. Sakit kok datangnya nggak tepat waktu gini? Pas banget lagi, pas banyak kerjaan di rumah yang harus diberesi, kerjaan kantor yang juga harus diselesaikan. Pas tinggal di rumah sendiri lagi. Haduuhhh... nggak bisa apa ya, nanti aja sakitnya??? Sakit kok di atur-atur suruh tepat waktu?! hehe



Biasanya juga nurut-nurut aja kalau ajak kerja kemana-mana, jarang-jarang ngambek begini. Kenapa ini??? Sejenak saya merunut kebelakang.

Oh yaa, kemarin tidur aja nggak teratur, baru juga pindah belum adaptasi sama tempat baru udah begadang aja, kalo belum jam 12 nggak tidur. Jarang-jarang buat istirahat dan tidur siang. Malah keasyikan jalan-jalannya sampai malam, pakai hujan-hujan lagi. 

Panteslah...., badan kan bukan robot yang bisa di atur-atur kemana-mana, di ajak kerja terus-menerus, kadang juga ada capenya punya keterbatasan dan perlu istirahat.


Di ambil hikmahnya aja. Bukankan Rasulullah pernah mengatakan, sakit yang datang dalam tubuh seorang muslim itu bisa jadi penggugur dosa-dosa hamba-Nya. Righht??

Nahh, bagi yang saat ini sedang sakit, saya doakan semoga cepat sembuh. Yang penting itu sabar dan tabah. Jangan sampai mencela penyakit yang kita derita, seperti pesan Rasullullah.

“Janganlah kamu mencela sakitmu. Karena sesungguhnya sakit itu mengikis kesalahan anak cucu Adam sebagaimana bara api mengikis keburukan besi.” (HR. Muslim)

Bagi yang diberi nikmat sehat, ingat juga salah satu 5 pesan suri teladan kita yang sudah sering kita dengar, “...gunakanlah waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu...” Makanya ketika sehat harus banyak bersyukur yaitu dengan mengisi waktu yang kita punya dengan kegiatan yang positif.

Waktu itu adalah salah satu karunia yang sangat berharga yang diberikan kepada manusia. Hidup kita tidak lain adalah waktu itu sendiri. Kalau kita tidak berusaha mengisi waktu kita dengan kebaikan, itu artinya kemungkinan besar hidup kita juga akan terisi dengan keburukan. #kutipan

Kalau sudah sakit, kebanyakan dari kita baru menyadari betapa nikmatnya waktu sehat. Begitu banyak nikmat Allah yang selama ini lalai untuk ia syukuri. Mau kemana dan makan apa kalau badan sehat juga enak. Makanya, jagalah kesehatan! 

Kemudian hikmah sakit selanjutnya adalah sebagai pendidikan. Ketika seseorang sakit, apalagi sakit parah, ia akan memahami betapa mahalnya nilai kesehatan. Ia pun rela mengeluarkan segala yang ia miliki demi kesembuhan penyakitnya.

Kemudian hikmah sakit yang ketigasakit merupakan teguran atas kesombongan manusia. Ketika sehat, manusia terkadang bertingkah seolah-olah dialah yang paling gagah, paling berkuasa tidak ada yang bisa menghentikannya. Padahal kalau diberi sakit demam saja, paling cuma bisa terbujur tiduran di kasur, tidak bisa apa-apa.

Yang ke empat, ketika sakit, kita akan lebih peka bagaimana rasanya keadaan waktu sakit itu sendiri, perlu dihibur dan sebagainya. Makanya kalau kita dengar ada saudara kita yang sakit, kita bisa peka untuk menjenguk dan menghiburnya.

Alangkah mulianya Allah swt yang telah menciptakan segala sesuatunya tidak ada yang sia-sia. Hanya satu sakit yang Dia timpakan kepada manusia. Akan tetapi, begitu banyak kebaikan yang dikandungnya. Kebaikan bagi si sakit yang sabar, dan kebaikan bagi yang sehat untuk selalu bersyukur.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari apapun yang diberikan-Nya.

Tetap semangat !!! :D

Friday, November 9, 2012



Tulisan ini saya buat setelah beberapa saat menunaikan ibadah sholat subuh, tepatnya setelah 5 hari kepindahan saya di tempat yang baru. Dengan cuaca yang cukup dingin, karena hari sebelumnya kota pelabuhan kecil ini di guyur hujan yang cukup lebat, membuat saya harus mengenakan jaket untuk sedikit memberikan rasa hangat di badan. Di dalam ruang tengah rumah dinas yang cukup besar yang saya tempati sendiri, ditemani secangkir teh hangat dan mp3  tilawah surat Ar-Rahman yang dilantunkan sangat merdu oleh Syeh Sa’ad Al-Ghamidi, dengan lincahnya jari-jemari saya pun menari di atas keypad laptop kesayangan yang sudah menemani beberapa tahun ini. Hmm.....   Alhamdulillah...  cukup menentramkan ditengah suara serangga bersaut-sautan  di luar rumah.

Ucapan syukur saya panjatkan, meskipun belum bisa sepenuhnya menyesuaikan diri di tempat baru ini.  Saya masih jauh lebih beruntung dari pada sekian juta orang diluar sana.  Yakin saja Allah SWT sudah menyiapkan planning yang terindah dibalik keadaan dan kondisi kita sekarang. Apapun keadaan atau masalah yang kita hadapi, patut dan layaknya harus disyukuri, karena Allah selalu punya maksud dan pelajaran di setiap masalah  dalam kehidupan kita. 

Baiklah, pada kesempatan ini saya  mau bercerita bagaimana harus adapatasi di lingkungan yang baru ini. Bagi kita, yang biasa tinggal di lingkungan yang mayoritas masyarakat yang berculturkan islam, tentunya seruan shalat atau adzan bisa kita dengarkan  melalui speaker-speaker masjid dengan begitu lantang dan kerasnya. 

Jadi ingat, waktu masih kost kebetulan kosan saya berada di samping persis di samping masjid. Kalau adzan subuh saja rasanya speakernya seperti di taruh persis di langit-langit kamar, kedengaran keras sekali. Mau tidak mau, bangun tidak bangun ya pasti akan bangun, untuk menunaikan jamaah sholat subuh. Tidak perlu waktu lama dengan sekejap sudah sampai di masjid. Kali ini, di tempat baru pertama saya bersyukur, alhamdulillah sekali mayoritas masyarakat adalah muslim. Masjid tidak jauh, paling hanya setengah kilo dari rumah. Hehe...


Lumayan lah, bagi saya yang dikaruniai kaki cukup jenjang dan langkah yang cukup lebar 2 kali dari rata-rata kebanyakan orang,  untuk jalan tidak sampai 10 menit. Wong untuk naik gunung berjam-jam aja kita sanggup, masa untuk memenuhi panggilannya kita berat #tamparan #plakplak

Meskipun suara adzan yang terdengar sayup-sayup seperti radio nggak ada dapat sinyal,

bersyukur dan masih beruntung sekali lah saya masih bisa dengar seruan-Nya.  Pernah saya diceritakan oleh seorang  teman yang dapat penempatan di barat pulau sumatera sana. Tidak perlu lah disebutkan orangnya. hehe



Katanya cuma dia yang  muslim sendiri di kantor dan bahkan di kampung dimana ia tinggal. Bayangkan? Jangankan berharap mau dengar adzan,  kalau mau sholat jumat saja harus ke masjid di kota yang perjalanan buat ke sana  tidak sebentar. Hmmm..., dibandingkan keadaannya tentu saya lebih beruntung.

Kata Ahmad Rifai’ Rif’an dalam  buku yang sangat bagus yang tengah saya baca “Man Shabara Zhafira”, dituliskan:

Kalau kita mendengar seseorang mengeluh bahwa kehidupan atau masalah itu berat, tanya saja dibandingkan dengan apa???”

Katanya bagaimana biar kita bisa bersyukur, yaitu senantiasa melihat ke bawah. Melihat kondisi orang-orang yang kekurangan, keterbatasan, kesusahan. Karena dengan demikian kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Lain halnya dengan ilmu dan amalan kita harus melihat ke atas, agar selalu termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dalam Al-Quran pun diterangkan tidak ada seorang manusia pun yang hidup di dunia ini, yang tidak diuji oleh Allah SWT. Semua manusia pasti akan diuji oleh Allah, dan itulah hakikat hidup di dunia ini. Seperti dalam firman-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kalau biasanya terdengar suara adzan yang lantang dan begitu kerasnya. Kini harus mencari suara sayup-sayup suara adzan yang terdengar.

Kalau biasanya untuk memenuhi panggilan adzan, bisa dengan secepat kilat dan tidak perlu bersusah-susah. Kini harus lebih mempercepat langkah, datang ke masjid pas pada waktunya agar tidak masbuk untuk berjamaah

Kalau biasanya bakdha subuh dan bakdha maghrib biasa mendengar tilawah, dan rasanya ada yang hilang kalau kita tidak ikut tilawah. Kini harus tilawah dalam kesendiran.

Kalau biasanya pas lagi malas atau ketiduran selalu ada teman yang mengingatkan dan membangunkan. Kini hanyalah kesadaran diri, semoga tidak goyah dan tetap istiqomah.

Kalau biasanya selalu ada suntikan rukhiah dan penambah ghirah melalui halaqah atau kajian perpekan, kini harus inisiatif sendiri mendatangi majelis ilmu atau membaca buku untuk memotivasi diri.

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Semoga kita tetap semangat dan istiqomah menjalankan perintahnya.

Semoga bisa  bermanfaat dan terutama menjadi pengingat buat penulis.

  

Wednesday, November 7, 2012

Ilmu Ikhlas


Apa kabar temen-temen semua??? Semoga selalu semangat dan pantang menyerah menjalankan aktivitas hari ini. Setelah beberapa hari hijrah ke tempat dan lingkungan baru, yang cukup menyita waktu dan tenaga, akhirnya bisa posting juga di blog ini setelah 3 hari lost. hehe. Semoga perpindahan ke tempat baru ini juga menjadi semangat baru untuk berkarya lebih baik lagi. Untuk kali ini, tidak berpanjang lebar langsung saja saya mau bahas mengenai ilmu ikhlas, mari di sila,

Kebanyakan dari manusia meyakini bahwa hidup itu adalah perjuangan. Bisa perjuangan mengejar rezeki, jodoh, karir atau yang lainnya. Lazimnya untuk meraih itu semua dilakukan dengan berjuang sekuat-kuatnya untuk meraih keinginannya. Untuk dapat rezeki, dilakukan dengan  kerja keras siang malam, banting tulang, peras keringat, pokoknya sampai titik darah penghabisan. Jodoh juga, pokoknya kejar kalau perlu pepet terus sampai dapat. Berdoa sepanjang malam,  “Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah… Tapi kalau bukan jodohku, Jodohin dong….”  Hahaha, ada-ada saja.

Mungkin temen-temen pernah merasakan, ketika kita mengejar sesuatu, ngotot banget, semua energi kita fokuskan ke situ,  susaaah sekali dapatnya. Tetapi seketika sudah sampai di titik ujung, kemudian pasrah, ikhlas. Ehhh, kok malah datang sendiri. Anehh .....

Atau waktu nyari barang yang hilang, dicari ke mana-mana, buka ini buka itu nggak ketemu-temu. Namun setelah diikhlaskan, pasrah. Ehhhh, malah datang sendiri di pikiran dan tiba-tiba ingat barangnya ada dimana. Sering mengalami kejadiaan seperti ini?

Padahal sebenarnya kalau direnungkan lagi, agama juga sudah mengajarkan bahwa kewajiban manusia itu ikhtiar sampai mentok, mengenai apapun hasilnya harus dipasrahkan, ikhlas dan disyukuri. Bukankah Sang Pencipta sendiri yang berjanji akan menambah nikmat bagi manusia yang bersyukur. Yah, tinggal menikmati proses ikhtiarnya dan menyerahkan semua urusan  hanya kepada Allah swt. Bukannya Dia yang mengetahui sebaik-baik urusan?? RIgghhtt ???

Inilah yang namanya ilmu ikhlas.

I-k-h-l-a-s. 6 huruf yang gampang sekali diucap tapi susah sekali dipraktekkan. Iyaa nggak? Diucapkan dibibir sih gampang, kucing sebelah pun pasti bisa kalau dilatih. Hehe

Tetapi menciptakan peristiwa ikhlas di dasar hati sanubari yang terdalam ini sangat memerlukan keterampilan, latihan dan pembiasaan! Kalau kita sudah bisa mengikhlaskan sesuatu sampai di pikiran dan perasaan, energinya tentu akan benar-benar powerfull. Karena yang bekerja di situ adalah kekuatan Tuhan, low off atraction. Tau kann?? Hukum tarik-menarik,

“Sesuatu akan menarik pada dirinya segala sesuatu yang satu sifat dengannya”

Dalam buku Quantum Ikhlas, tulisan Erbe Sentanu, diterangkan.

“Nasib seseorang mencerminkan karakternya. Sementara karakter orang itu berasal dari semua kebiasaan serta tindakannya. Dan tindakan berasal dari pikirannya yang bermuara pada perasaannya. Nasib, karakter, kebiasaan dan tindakan adalah sesuatu ‘yang tampak’, sementara pikiran dan perasaan adalah energi kuantum ‘yang tak tampak’.”
“Kenyataan kuantum ini mengatakan : Kita bisa mengatur perasaan untuk mengubah nasib kita. Otomatis!”

Dalam bukunya  Stephen Covey, The Speed of Trust juga dituliskan:

“...untuk meraih tujuan hidup, tidak ada sesuatu yang bisa melebihi kecepatan trust...”

Sungguh benar, kalau kita  percaya terhadap diri sendiri,  dan yang paling utama percaya kepada Allah SWT, atau bisa ikhlas. Tentu itu akan menjadi doa dan energi yang bisa mengaktivasikan keinginan-keinginan kita menjadi daya dorong, dan tenaga yang sangat powerfull menuju tercapainya keinginan kita tersebut.

Dalam Alquran, juga dengan gamblang dan sangat jelas bahwa, 

“Allah itu dekat, berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan!

Kebenaran didalam Alquran tentu sangat mutlak dan tidak perlu diragukan lagi. Iya, ada tiga cara Allah mengabulkan doa atau keinginan kita,

Apabila Allah mengatakan ya, berarti kita mendapat apa yang kita inginkan!

Apabila Allah mengatakan tidak, berarti kita akan mendapatkan gantinya yang lebih baik!

Apabila Allah mengatakan tunggu, berarti kita belum pantas untuk mendapatkannya. Untuk itu kita harus memantaskan diri di hadapan-Nya. Dengan apaa??? Ikhtiar, amal dan doa dengan sebaik-baiknya. Insyaallah kita akan mendapatkan yang terbaik disaat tepat menurut Allah.

Allah tidak akan pernah terlambat. Dia juga tidak tergesa-gesa. Dia selau tepat waktu dan selalu punya alasan dibalik semua kejadian dalam hidup kita. Kalau doa belum terjawab mungkin karena kita belum pantas atau akan diganti dengan yang lebih baik. Insyaallah....

Be Positive dan terus berprasangka baik saja terhadap-Nya! :D


Semoga bermanfaat

Salam

Saturday, November 3, 2012


Seringkali kita merasa hidup ini penuh dengan berbagai cobaan, seolah-olah Tuhan tidak adil kepada kita. Kenapa hidup harus begitu susah, berbagai kesulitan menghampiri kita setiap saat. Masalah datang bertubi-tubi tiada hentinya. Masalah satu selesai, timbul masalah yang lain lagi, begitu terus-menerus. Kenapa juga hidup harus susah seperti ini???

Berikut sepenggal kisah sederhana dari seekor anak katak, semoga bisa menginspirasi. Langsung saja mari kita simak kisah berikut ini:

*********************
Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap.

"Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya.

Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita.
Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil.

 "Ibu, itu apa lagi?
Apa itu yang kita tunggu-tunggu? " tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan.
 "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan.

Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.

"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar.

Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu  menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya.

Tapi juga gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus memejamkan mata.

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai.

 "Itu cuma petir.  Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan.

Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"

***************************

RENUNGAN :

Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan.
Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. 




Inspired by Life Excellent Center

Thursday, November 1, 2012

Pegawai Sejati


Seringkali kita mendengar para pekerja atau pegawai yang mengeluh atas keadaan yang dialaminya. Entah itu gajinya kurang, minta naek gaji, susah  ngajuin naik pangkat, atasan  nggak pengertian, suka menginjak-injak bawahan dan sebagainya. Bahkan sudah menjadi aksioma yang namanya pegawai sejati itu, sudah pasti kerja berat. Salah sedikit dicaci maki, dituntut loyalitas yang tinggi, kalau tidak loyal dimutasi, pulang cepat dimarahi, hidup kaya dicurigai, nanya menuntut gaji ditandai, nggak hati-hati masih kena sangsi.

Haaahhh...., Komplit sudaaah, lebih komplit dari bakso yang paling komplit. Hehehe....

Apakah tidak ada cara supaya keadaan lebih membaik???

Apakah ada pilihan untuk peningkatan kualitas hidup???

Tentu! Pasti ada. Bagaimana caranyaa????

Jadi pegawai itu yang penting jujur, rajin, dan kerja sebaik-baiknya nggak perlu mengeluh, nuntut kenaikan pangkat, gaji, minta pindah, dsb.

Yang penting berusaha jadi yang paling rajin, paling jujur dan yang paling bisa memimpin diantara yang lainnya.

Kalau kita bisa menjadi seperti di atas, tentu kita yang akan di kejar-kejar atasan.
Untuk kenaikan pangkat, gaji dan karir pun akan mengikuti tanpa perlu kita tuntut.

Biarlah atasan yang menilai. Kalau atasan gak pinter menilai masih ada atasan lain yang lebih tinggi yang masih pinter menilai.

Kalau atasan masih nggak pinter menilai juga, biarlah Sang Maha Penilai yg kasih nilai :D

Ayo semangat untuk para pegawai sejati ! :D


Wednesday, October 31, 2012

Apa kabar sobat semua??! Semoga tetap semangat dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Ingat, apapun aktivitas yang kita lakukan, jangan lupa untuk diniatkan untuk mencari ridho Allah SWT. Baik itu belajar, bekerja atau aktivitas apa pun apabila kita berniat dalam hati untuk mengharap ridho-Nya, insyaallah amalan tersebut juga akan bernilai ibadah dan mendapat balasan pahala. Sepakatt??! 

Pada kesempatan ini saya mau melanjutkan lagi cerita petualangan saya menjemput impian di Mahameru. Sudah menantikan kelanjutan cerita ini ya??? Hehehe,  Sabar dulu...

Bagi temen-temen yang belum menyimak kisah sebelumnya, alangkah baiknya untuk baca dulu biar nyambung. Nihh ---> Mahakarya dari Yang Maha Cinta, "Mahameru" (part 1) dan ini Mahakarya dari Yang Maha Cinta, "Mahameru" (part 2)

Impian. I – m – p – i – a – n . Dari kemarin saya selalu membicarakan suatu topik, yaitu impian. Perjuangan menjemput impian, perjalanan mewujudkan impian menjadi kenyataan, dsb. Sebenarnya apa itu impian??? Mungkin ada yang nanya.

Boleh saya jawab? Kalau saya tidak punya impian, saya tidak akan susah payah pergi jauh-jauh sampai ke Malang, tidak akan mengorbankan waktu berhari-hari masuk hutan,  tidak akan merelakan kaki untuk berjalan jauh berjam-jam, dan menguras peluh keringat, belum rasa cape, membawa beban yang tidak ringan naek ke atas gunung. Belum ditambah lagi melawan rasa kantuk, hawa super dingin yang menusuk tulang, bahkan sampai menantang maut dan tetap saja berangkat ke Puncak tertinggi Mahameru dengan keyakinan, tekad dan semangat. Tentunya, tidak mungkin saya korbankan itu semua kalau tidak ada tujuan yang ingin dicapai.

Buat apa sih susah-susah naek gunung begitu? Nggak ada gunanya ?!  Apa manfaatnya??? Mendingan tidur, nyenyak, nonton tv  di rumah.!  *pertanyaan orang awam yang tidak pernah tau akan nilai perjuangan, kesabaran, dan suatu pengorbanan menghadapi tantangan!

Perhatikan perkataan Bapak Palang Merah Dunia, Sir Henry Dunant berikut ini:

" Sebuah negara tidak akan pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering berpetualang di hutan, gunung, dan lautan. ”

Bukan orang sembarangan yang mampu keluar dari zona nyaman. Bukan orang biasa yang berani meninggalkan rutinitas keseharian, keluar dari kesenangan yang  melenakan. Kasur nan empuk di rumah, meninggalkan gadget, televisi, sosial media, dan hiburan lainnya untuk rela bersusah-susah, berjuang keras dengan penuh kesabaran, dan pengorbanan meninggalkan  itu semua. Tentu  tujuannya adalah satu untuk meraih kesuksesan. Suatu bentuk pencarian jati diri, pencarian hakikat dari arti kehidupan. Mencari jawaban atas semua pertanyaan kenapa kita hidup dan alasan kita berada di dunia. Dan akhirnya nanti kita akan terpuaskan dengan jawaban dari semua pertanyaan. Kesadaran yang akan menancap dalam, di hati sanubari akan kebesaran dan keagungan Allah SWT. Bahwa sedemikian kecilnya  diri ini. Kita, manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Bahkan tidak lebih kecil dari sebutir debu di dalam luasnya alam semesta ini.

Kembali lagi deh, malah kemana-mana jadinya. hehehe

Lalu apa yang menjadi impian saya di Mahameru??? Apakah cukup menginjakkan kaki di sana, titik tertinggi pulau Jawa? Ahh, tidak hanya itu. Terus apa dong? Nanti sambil baca ceritanya akan ketemu jawabannya. Hehe


Terakhir, kami sampai di Pos Kalimati. Sebuah lembah berpasir dan berbatu dimana di depan pos kalimati ini terdapat padang yang cukup luas yang ditumbuhi banyak sekali tanaman edelweiss. Dari sini, kita bisa menyaksikan Puncak Mahameru, yang terlihat seperti gundukan batu pasir maha raksasa yang begitu besar dan berwibawa di atas sana.

( view Mahameru dari depan pos kalimati)

Hari menjelang senja. Kami pun beristirahat untuk mengembalikan stamina yang terkuras setelah berjam-jam perjalanan yang cukup melelahkan. Belum lagi persiapan untuk "Summit of Mahameru" yang kami rencanakan nanti tengah malam. Setelah berdiskusi dengan rombongan dan sesama pendaki lainnya diputuskan, kami akan berangkat “Summit of Mahameru”, jam sebelas malam. #WuihhNiatBanget

Hal itu kami lakukan dengan beberapa pertimbangan. Mengingat warning dari pendaki senior yang sudah berpengalaman, dimana harus sampai puncak sebelum jam 8 pagi, untuk menghindari gas beracun yang disemburkan oleh kawah Mahameru. Perjalanan biasa normal memakan waktu kurang lebih 6 jam. Sebelum siang, juga harus sudah turun lagi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.  #KeselamatanItuYangUtama

Waktu yang ada, benar-benar saya gunakan  untuk beristirahat di dalam tenda. Baju hangat double, sarung tangan, kaos kaki, kupluk, sleeping bag, semua saya kenakan supaya benar-benar bisa nyaman untuk istirahat.

“Nanti jam 10 malam harus sudah bangun untuk mempersiapkan semua perlengkapan”, pikir saya

Untuk pendakian kali ini cukup bawa tas kecil atau  backpack aja. Sangat tidak memungkinkan dan  bahaya malah kalau mau bawa carrier. Jangankan bawa carrier, bawa diri aja susah. hehe

"Dua botol aq*a kecil sudah,  roti buat sarapan sudah, kamera siap, baterai cadangan full, bendera merah putih oke, senter oke, slayer siap, kacamata, hansaplast, topi  almamater, dan tisu basah....!”

Ahh, siap semua..! ” cukup dan saya langsung masukkan semua amunisi ini ke tas.

Kaos, jaket almamater, baju hangat 2 lapis, kaos kaki  2 lapis, celana training 2 lapis, kaos tangan, masker, headlamp dan kupluk...!”    cukup dan langsung saya kenakan semua. #lengkapbangettt hehe #iyadong

Setelah selesai mengecek perlengkapan yang akan kami bawa, dan membuat roti bakar dan meneguk secangkir kopi jahe hangat kami pun keluar tenda.

“Brrrrrrrrrrrrrrrr...., dinginnnyaa ituuu.........."  #pasangkupluk

“Wusssshhhhhhhhhhhhhhh, Wusssshhhhhhhhh” #anginkenceng

Di luar tenda, nampak dalam remang-remang cahaya api unggun yang tidak begitu terang di dalam kegelapan lembah kalimati dengan angin yang cukup kencang, sudah banyak pendaki lain yang sudah berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Ada yang briefing dan mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Ada yang mengelilingi api unggun, sambil nyanyi-nyanyi berangkulan menghimpun kehangatan, lumayan  sedikit mengurangi efek  dari angin super dingin yang menembus kulit meskipun sudah mengenakan jaket berlapis-lapis.

“Ohhh,  indahnya persahabatan di lembah Mahameru.”

Segera saya pun bergegas, bergabung dengan rombongan. Lumayan banyak para pendaki yang melakukan pendakian mahameru malam ini. Saya perkirakan 50-an lebih. #lumayanbanyaktemen

Jam sebelas kurang 15 menit. Kami semua berjalan bercahayakan sinar senter menuju ke padang yang lebih luas. Di sinilah semua pendaki berkumpul, membentuk kelompok-kelompok.

Setelah briefing oleh salah seorang pendaki senior, bagaimana track yang akan di hadapi, menyampaikan beberapa pesan, jangan terpisah dari rombongan, tetap berpositive thinking, dan jangan sampai tertidur, dsb. Kami pun akhirnya menundukkan kepala, berdoa  sebelum perjalanan pendakian malam ini. Memohon kepada Allah SWT, Sang Pencipta dari Keagungan Alam raya ini supaya diberikan keselamatan dan kemudahan agar sampai dan kembali dari puncak dengan selamat.

“Bismillahitawakkaltu‘alallaaah........”

“Berangkaaaaaaaaaaaaat !!!”, jam sebelas lebih lima menit kala itu.

Melewati jalan berpasir dalam malam gelap yang pekat dengan pandangan mata yang terbatas. Sejauh mata memandang, yang nampak  hanyalah ribuan  partikel debu berjatuhan terkena cahaya sinar senter. Sempat menuruni lembah, kemudian track mendaki yang berdebu dan berpasir dalam gelapnya hutan lembah mahameru. Akhirnya, setelah satu jam pendakian kami sampai di Pos “Arcopodo”. Arco artinya arca, sedangkan podo itu artinya sama atau kembar. Berarti arca kembar. Katanya ada arca kembar itu di sini. Tapi entahlah, saya nggak menemukan ada arca di pos ini. Yang ada malah tugu kecil seperti batu nisan, “in memoriam”, untuk mengenang para pendaki yang telah meninggal di sini. Lumayan menyeramkan.

Setelah sebentar beristirahat, ambil nafas, perjalanan pun dilanjutkan. Semakin ke atas udara rasanya semakin tipis, jadi agak susah untuk bernafas. Masker yang saya kenakan pun saya buka tutup. Kadang saya basahin pakai air, supaya debu-debu yang berterbangan ini tersaring sebelum masuk rongga hidung. Saya memutuskan untuk berjalan lebih cepat dari yang lain. Nggak tau ada dorongan apa kala itu. Saya berada di barisan paling depan, mengawal rombongan 50 orang lebih pendaki.

“Sebelum subuh harus sudah sampai pokoknya...!”  tertanam di benak saya

Setelah berjalan beberapa menit, kami pun sampai dibatas vegetasi, pepohonan terakhir hanya sampai di sini. Di atas sana tidak ada lagi pepohonan. Sejauh yang dijangkau cahaya lampu senter, yang nampak hanyalah bongkahan batu super raksasa, jalan setapak dengan batu kerikil dan pasir di mana-mana. Track kali ini benar-benar sangat berbeda dan benar-benar yang namanya mendaki itu mungkin seperti ni. Untung waktu di pos Arcopodo saya menemukan tongkat sepanjang 2 meter. Pas sekali sama tinggi badan saya. Bisa membantu menjaga keseimbangan waktu berjalan di gundukan pasir yang sewaktu-waktu bisa longsor kapan saja.

Pendakian kali ini harus benar-benar fokus. Kemiringan medan yang mencapai 70o dengan batu pasir di mana-mana seperti itu, menuntut mata harus lebih awas. Jejakan kaki yang juga  harus mantap. Leher yang selalu mendongak ke atas, melihat medan. Jangan sampai lengah terkena batu, pasir dan kerikil yang bisa longsor kapan saja. Kalau ragu-ragu, tidak yakin melangkah atau salah pijakan bisa saja terpeleset atau tertimpa longsoran, atau bisa juga terjebur ke jurang yang berada si kanan kiri jalan setapak ini. Menjejakkan kaki maju 3 langkah, longsor turun lagi 2 langkah. “ hop... hopp... hopp...!” tancap tongkat di depan sebagai pegangan. Terus bertahan dan terus berjalan. Hanya itu yang saya lakukan.

Sesekali saya menengok kebelakang terlihat puluhan cahaya kecil senter bergerak merangkak lambat sekali. Saya berada di paling depan 10 meter diatas rombongan. Semakin ke atas, angin gunung super dingin terasa semakin kencang, berhembus dari sebelah kiri. Tubuh saya yang cukup besar pun rasanya mau roboh terbawa tiupan angin yang sangat kencang itu. Udara juga rasanya semakin tipis, jadi susah sekali untuk bernafas. Mau buka masker debu di  mana-mana, tutup masker rasanya sesak, ahh serba salah. Pantaslah, ketinggian waktu itu sudah mencapai 3000 meter lebih. Hidung saya rasanya nggak mau di ajak kompromi, mengeluarkan cairan yang tidak ada habis-habisnya. Udara pun rasanya semakin dingin, bisa mencapai 5 derajat suhunya.

Berjalan dalam kegelapan malam yang sangat pekat membuat semua pendaki hanya bisa terdiam. Semua fokus menjejakkan kaki di medan batu berpasir, menghela dan mengatur nafasnya masing-masing. Tidak sempat lagi mau ngobrol satu sama lain. 

Setelah sekian lama mendaki, sempat beberapa kali terjatuh dan terpleset terkena longsoran pasir yang terinjak, sampai juga di bebatuan yang cukup besar. Saya putuskan untuk isitirahat sebentar, mengatur nafas yang terengah-engah, meneguk minum untuk membasahi tenggorokan dan membenahi dan membasahi masker yang saya kenakan. Dari atas sini, di tengah keputusasaan dan kebosanan berjalan berjam-jam tidak sampai-sampai juga, Sang Pencipta menghibur saya dengan menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnyaa.

“Subhanallaaaaaaaaaaahhhhh..............................”

Tidak ada lagi kata yang bisa sy ucapkan. Speachlesssss...

Mendongak ke atas, langit malam yang sangat ceraaaaah sekali, berhiaskan jutaan bintang yang bertaburan dimana-mana.
Buanyaakk sekaliii........, baru kali ini melihat bintang rasanya dekat seperti ini.
Menoleh ke kanan, nampak lampu-lampu kota yang berkilauan di sana.

Belum lagi di tambah sabit nan indah tersenyum manis menemani perjalanan saya kala itu.
Manis sekalii dibandingkan biasanya....

“Ohhh, indahnyaaa mahakarya-Mu .....”

Dalam perjuangan yang benar-benar menguras tenaga. Rasa capek, lelah, melawan hawa dingin yang menyiksa. Dalam keheningan diantara gelap malam yang pekat di tengah hutan batupasir raksasa. Kecil sekali rasanya diri ini. Kala itu tidak ada lain yang ada di pikiran kecuali hanya Sang Pencipta, Allah Ajja Wa Jalla. Ucapan rasa syukur tiada henti atas nikmat dan karunia-Nya. Syukur atas nikmat umur dan hidup yang diberikan-Nya. Syukur atas orang-orang terkasih yang selalu mendoakan dan selalu ada di  kala susah. Syukur atas sahabat-sahabat terbaik yang selalu mendukung dan memotivasi. Dan bersyukur atas kesempatan bisa menikmati panorama alam  mahakarya-Nya yang luar biasa  ini.

Saya langsung teringat hafalan surat Al-Mulk yang tengah saya hafal waktu itu. Sambil berjalan mendaki dalam kegelapan. Lantunan surat Al Mulk ini menemani saya di sepanjang perjalanan,

 dst........
                         

“(1) Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (2)  Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun (3) Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?....  (5)  Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang..... (15) Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Al Quran: Al- Mulk)

Setelah berulang-ulang melantunkan ayat yang sangat indah ini. Setelah berulang kali istirahat, ambil minum, ambil nafas, dan sempat juga berbagi makanan dan minuman dengan beberapa pendaki. Setelah berulangkali pula terjatuh, terperosok dalam longsoran pasir, bangkit, jatuh, dan bangkit lagi. Akhirnya, sampailah di hamparan pasir dan bebatuan yang sangat luas. Iya, sampai juga di Puncak Mahameru 3776 mdpl. Di puncak kala itu masih gelap yang nampak hanya semburat jingga kemerahan di ufuk timur. Indah sekaliii..

(semburat jingga di ufuk timur mahameru)

Hati saya bergetar hebat. Tidak terasa mata berkaca-kaca, air mata pun menetes begitu saja.  Tidak ada yang saya lakukan kecuali memanjatkan puji syukur atas hidup dan karunia-Nya bisa sampai di sini.

Segera saja saya lepas masker,  syal, semua atribut yang saya kenakan. Segera saya ambil posisi, bergegas mengagungkan kebesaran Sang Pencipta. Dengan tubuh menggigil, kaku dan bergetar sejadi-jadinya melawan dingin yang menusuk sampai sumsum tulang. Saya kumandangkan adzan subuh dengan  sekeras-kerasnya,

Allahhuakakbar Allaaaaahuakbar...”

Allaaaaaaahhuakakbar Allaaaaaaaaaaaaaaahuakbar...”

.....................................


Alangkah bahagia sekali waktu itu. Tidak peduli angin sangat kencang super dingin, suhu berkisar 0-3o. Dingin sekali. Jaket berlapis-lapis yang saya kenakan pun rasanya tidak ada pengaruh, rasanya tetap saja seperti nggak pakai baju. Benar-benar menusuk-nusuk tulang.

“Alhamdulillaaahhhh..... Segala puji bagi-Mu Ya Allah Tuhan Seru Sekalian Alam ‘

Salah satu impian saya di Mahameru, mengumandangkan adzan di Puncak tertinggi, salah satu penyangga langit negeri, terwujud menjadi kenyataan.

(Impian pertama: mengumandangkan adzan di puncak tertinggi) 

“Tidak ada yang lebih  indah di dunia ini selain melihat impian kita terwujud menjadi kenyataan! Luaar Biasaaa!!! “

Dengan kamera kodak kesayangan, saya abadikan semua moment keindahan di puncak ini. Tidak saya lewatkan satu moment, bahkan dalam hitungan detik sekalipun. Mata rasanya tidak mau terpejam menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Keindahan dan kemegahan Mahameru, sunrise, awan-awan putih, dengan langit biru cerah, secerah-cerahnya yang membentang di sejauh mata memandang, serta panorama alam perbukitan di sekitar Mahameru. 

Bahkan kawah “Jonggring Saloka” yang setiap saat mengeluarkan letupan-letupannya itu pun tidak saya lewatkan dan berhasil saya abadikan semua.  Berjalan diantara bebatuan, mengelilingi hamparan pasir berbatu Mahameru dari ujung ke ujung.


(hamparan pasir berbatu dan langit biru cerah di mahameru)

Puaass sekali rasanya. Oya, Impian saya yang kedua di puncak Mahameru pun terwujud. Berfoto dengan menggunakan pakaian kebesaran jaket almamater dengan mengibarkan dwiwarna  merah putih dengan backround sunrise di puncak tertinggi, Mahameru juga menjadi kenyataan. Girang sekali saya waktu itu! Rasa lelah, capek, ngantuk, perjuangan menguras energi berhari-hari, setelah terjatuh, terpeleset, terperosok ke longsoran pasir berulang kali terbalas sudah, tuntas tas..tass....  semuanya berganti menjadi bahagia yang membuncah.

Tidak ada kata yang bisa lagi saya ucapkan untuk menggambarkan kebahagian saya selain itu. Indaaah sekali rasanya...


 ( Impian kedua: mengibarkan merah putih di mahameru dengan backround sunrise)


Dua impian sederhana yang mungkin biasa bagi orang lain, tetapi itu menjadi energi luar biasa bagi saya untuk jadi yang terdepan. karena kenyataannya, tidak banyak yang sampai di Puncak kala itu, apalagi yang dapat moment sunrise. Hanya sebagian kecil, yang punya kemauan dan tekad saja lah yang sampai di puncak mahameru ini.
  
Semua karena kekuatan impian dan cita-cita. Percaya akan keajaiban doa, keinginan yang kuat, keyakinan yang menancap dalam hati menjadi energi super yang tak terbatas akan mendorong kita melesat jauh ke depan.

Terakhir menutup cerita petualangan saya ini, mengutip tulisan Doni Dirgantoro dalam novelnya “5 cm”

“...mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar taruh di sini” , menggantung mengambang di depan kening kamu.


“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”

“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja..”

“Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya...”

“Serta mulut yang akan selalu berdoa...”

Bermimpilah! Seberapa besar mimpimu itu mencerminkan seberapa besar keyakinanmu akan Kuasa Tuhan untuk mewujudkan mimpi-mimpimu.

Sekian,

Salam 



Berikut bonuss beberapa jepretan saya di Mahameru yang bisa saya bagikan ke temen-temen semuaa....


( fajar menyingsing dari puncak mahameru)

( sunrise mahameru 1)

( sunrise mahameru 2)


(landskape kawah jonggring saloka)

(landskape panorama perbukitan dari puncak mahameru)

( view perbukitan dari puncak )

(hamparan batu pasir di puncak)

(kawah jonggring saloka yang tengah mengeluarkan awan panas)
yang terakhir, terbongkarlah identitas sy, hehe ^_^
( berfoto di tugu mahameru 3676 mdpl ^ ^ )

Labels

 

My Friends

My Twitter