Social Icons

Pages

Friday, November 9, 2012



Tulisan ini saya buat setelah beberapa saat menunaikan ibadah sholat subuh, tepatnya setelah 5 hari kepindahan saya di tempat yang baru. Dengan cuaca yang cukup dingin, karena hari sebelumnya kota pelabuhan kecil ini di guyur hujan yang cukup lebat, membuat saya harus mengenakan jaket untuk sedikit memberikan rasa hangat di badan. Di dalam ruang tengah rumah dinas yang cukup besar yang saya tempati sendiri, ditemani secangkir teh hangat dan mp3  tilawah surat Ar-Rahman yang dilantunkan sangat merdu oleh Syeh Sa’ad Al-Ghamidi, dengan lincahnya jari-jemari saya pun menari di atas keypad laptop kesayangan yang sudah menemani beberapa tahun ini. Hmm.....   Alhamdulillah...  cukup menentramkan ditengah suara serangga bersaut-sautan  di luar rumah.

Ucapan syukur saya panjatkan, meskipun belum bisa sepenuhnya menyesuaikan diri di tempat baru ini.  Saya masih jauh lebih beruntung dari pada sekian juta orang diluar sana.  Yakin saja Allah SWT sudah menyiapkan planning yang terindah dibalik keadaan dan kondisi kita sekarang. Apapun keadaan atau masalah yang kita hadapi, patut dan layaknya harus disyukuri, karena Allah selalu punya maksud dan pelajaran di setiap masalah  dalam kehidupan kita. 

Baiklah, pada kesempatan ini saya  mau bercerita bagaimana harus adapatasi di lingkungan yang baru ini. Bagi kita, yang biasa tinggal di lingkungan yang mayoritas masyarakat yang berculturkan islam, tentunya seruan shalat atau adzan bisa kita dengarkan  melalui speaker-speaker masjid dengan begitu lantang dan kerasnya. 

Jadi ingat, waktu masih kost kebetulan kosan saya berada di samping persis di samping masjid. Kalau adzan subuh saja rasanya speakernya seperti di taruh persis di langit-langit kamar, kedengaran keras sekali. Mau tidak mau, bangun tidak bangun ya pasti akan bangun, untuk menunaikan jamaah sholat subuh. Tidak perlu waktu lama dengan sekejap sudah sampai di masjid. Kali ini, di tempat baru pertama saya bersyukur, alhamdulillah sekali mayoritas masyarakat adalah muslim. Masjid tidak jauh, paling hanya setengah kilo dari rumah. Hehe...


Lumayan lah, bagi saya yang dikaruniai kaki cukup jenjang dan langkah yang cukup lebar 2 kali dari rata-rata kebanyakan orang,  untuk jalan tidak sampai 10 menit. Wong untuk naik gunung berjam-jam aja kita sanggup, masa untuk memenuhi panggilannya kita berat #tamparan #plakplak

Meskipun suara adzan yang terdengar sayup-sayup seperti radio nggak ada dapat sinyal,

bersyukur dan masih beruntung sekali lah saya masih bisa dengar seruan-Nya.  Pernah saya diceritakan oleh seorang  teman yang dapat penempatan di barat pulau sumatera sana. Tidak perlu lah disebutkan orangnya. hehe



Katanya cuma dia yang  muslim sendiri di kantor dan bahkan di kampung dimana ia tinggal. Bayangkan? Jangankan berharap mau dengar adzan,  kalau mau sholat jumat saja harus ke masjid di kota yang perjalanan buat ke sana  tidak sebentar. Hmmm..., dibandingkan keadaannya tentu saya lebih beruntung.

Kata Ahmad Rifai’ Rif’an dalam  buku yang sangat bagus yang tengah saya baca “Man Shabara Zhafira”, dituliskan:

Kalau kita mendengar seseorang mengeluh bahwa kehidupan atau masalah itu berat, tanya saja dibandingkan dengan apa???”

Katanya bagaimana biar kita bisa bersyukur, yaitu senantiasa melihat ke bawah. Melihat kondisi orang-orang yang kekurangan, keterbatasan, kesusahan. Karena dengan demikian kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Lain halnya dengan ilmu dan amalan kita harus melihat ke atas, agar selalu termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dalam Al-Quran pun diterangkan tidak ada seorang manusia pun yang hidup di dunia ini, yang tidak diuji oleh Allah SWT. Semua manusia pasti akan diuji oleh Allah, dan itulah hakikat hidup di dunia ini. Seperti dalam firman-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kalau biasanya terdengar suara adzan yang lantang dan begitu kerasnya. Kini harus mencari suara sayup-sayup suara adzan yang terdengar.

Kalau biasanya untuk memenuhi panggilan adzan, bisa dengan secepat kilat dan tidak perlu bersusah-susah. Kini harus lebih mempercepat langkah, datang ke masjid pas pada waktunya agar tidak masbuk untuk berjamaah

Kalau biasanya bakdha subuh dan bakdha maghrib biasa mendengar tilawah, dan rasanya ada yang hilang kalau kita tidak ikut tilawah. Kini harus tilawah dalam kesendiran.

Kalau biasanya pas lagi malas atau ketiduran selalu ada teman yang mengingatkan dan membangunkan. Kini hanyalah kesadaran diri, semoga tidak goyah dan tetap istiqomah.

Kalau biasanya selalu ada suntikan rukhiah dan penambah ghirah melalui halaqah atau kajian perpekan, kini harus inisiatif sendiri mendatangi majelis ilmu atau membaca buku untuk memotivasi diri.

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Semoga kita tetap semangat dan istiqomah menjalankan perintahnya.

Semoga bisa  bermanfaat dan terutama menjadi pengingat buat penulis.

  

Labels

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

My Friends

My Twitter